<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-4048571085775261883</id><updated>2011-07-30T14:56:59.873-07:00</updated><category term='poetry'/><category term='refleksi'/><category term='Muakology'/><category term='artikel'/><title type='text'>lebenswelth</title><subtitle type='html'>eksistensilah yang mendahului esensi</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://penantangtuhan.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4048571085775261883/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penantangtuhan.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>daspuy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02379759474672467858</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_meyFCGexN_I/Sf_HZB9pijI/AAAAAAAAABA/E7vsIZoQj74/S220/BadieullhaqQ(213).jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>10</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4048571085775261883.post-501220066013020783</id><published>2009-12-27T01:52:00.000-08:00</published><updated>2009-12-27T01:56:46.616-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Muakology'/><title type='text'>men[telanjang]i pilihan</title><content type='html'>&lt;div class="note_header"&gt;&lt;div class="note_title_share clearfix"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dalam cinta seringkali kebungkaman lebih berlaku dari pada percakapan –Pascal&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; Dalam petuahnya Either/Or, A Fragment of life (1944), Kierkegaard tidak pernah membiarkan kekahawatiran eksistensial dan kesangsian hidup begitu saja. Ia selalu mengurut nasib dalam kegalauan hidup yang dramatis nan tragis. Ia membisikan kegelisahannya ditelingaku, takala aku sedang dirundung duka dan ketidakpastiaan dalam mengarungi semesta hidup.&lt;br /&gt;“Tiap orang yang belum merasakan pahitnya rasa putus asa berarti telah kehilangan arti kehidupan, walaupun ia hidup dengan senang dan indah”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah fenomena objek manusia selalu dihadapkan pada persoalan “pertentangan”, ada kebaikan selalu mengandaikan adanya kejahatan, kita mengenal siang karena malam sudah lewat. Begitulah seterusnya dalam menjalani kehidupanku yang penuh dengan rasa bimbang, penuh dengan kegamangan. Tak pernah ada yang memahami eksistensiku dan memaknai ke-ber[Ada]-didunia. Aku tahu dimana harus memulai, tapi tak tahu dimana harus mengakhiri. Aku selalu dihadapkan pada pilihan-pilihan (alterasi). Aku harus mengambil keputusan di dalam ber-eksistensi, walaupun dalam pengambilan keputusan itu selalu didasari atas kuasa nalar, intuisi, atau rasa belas kasihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang aku rasakan hari ini, sama dengan apa yang kurasa waktu pertama kali aku jumpa denganmu. Di depan Stand Aqfil, kala itu aku masih bingung menafsirkan penampakan wujudmu. Waktu terus berubah menandakan sebuah proses kejadian dari logos semesta. Karena ia tunduk pada ketetapan kosmos maka segala makhluk yang ada didalamnya tak bisa menegasikan dirinya pada apa konsep ke-meruang-an dan ke-mewaktu-an yang telah menjadi ketetapannya. Pikiranku bercengkrama dengan sesuatu yang sudah terefleksikan oleh daya indrawi. Ia hadir dalam segenap mistery semesta. Karena yang eksis adalah rasio [nalar] bukanlah sebongkah materi yang fana. Seperti petuah para atomis yang memandang pikiran, dan perasaan tak lain dari sebentuk materi semata. Akan tetapi di bantah oleh gumam Descartes dari atas kasur; Cogito Ergo Sum―aku berfikir maka aku ada. Hingga akhirnya aku tersadar sudah terperosok pada jurang Solipsisme. Karena hanya pikirankulah yang eksis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Detik ini, dalam kesunyatan gelap. Dimana bulan setengah telanjang bercermin dalam malu, bercengkrama pada kesunyian tiada bebintang menemaninya. Dalam temaran cahaya bulan yang remang-remang; bayang wajahmu hadir dalam tarian awan yang nampak putih dibalut nyanyian angin yang penuh syahdu melantunkan syair penuh dengan nada kepesimisan. Tatapannya kini mencurigakan. Seolah-olah ia hendak menikamku dari keterjagaan. Penuh dengan seribu teka-teki yang menuntut untuk segera dijawab, namun setiap persoalan yang hendak dijawab selalu mengandaikan munculnya pertanyaan-pertanyaan baru. Hingga akhirnya aku hanya pasrah, tertunduk, diam, telungkup dan telanjang membelakangi arah kegelapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah sekian lama aku larut dalam kesendirian, ditemani sunyi dan sedikit rasa cemas. “Apakah percakapan kemarin akan terulang lagi?. Gumamku dalam sadar”&lt;br /&gt;Hadirmu membuat aku selalu ditikam gelisah menyulam hari-hari esok. Kegalauan penuh dengan kecemasan akan rasa rindu yang tak bisa terbendung lagi. Aku takutkan semacam kamu tidak respon terhadap kegelisahan perasaanku selama ini. Sadarkah engkau? Yang telah menelanjangi perasaanku hingga aku tersungkur dan terjatuh pada lubang kegelapan, akan ketidak pastian dan ketaktentuan arah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak akan pernah bisa melupakan pengalaman kita berdua. Bila aku ingat, aku selalu tertawa lalu termenung memikirkan sepenggal kisah yang pernah kita lewati dalam percakapan kemarin dibawah rindang pohon depan Fakultas Ushuludin. Diktum perasaanku telah terpahat, menggantung di atas langit, tertancap sebagai pasak bumi. Meski aku tak pernah mengiklarkan perasaan cinta namun getaran jiwamu kurasakan hingga aku tak sanggup berdiri, apalagi menggunakan segenap penalaranku. Karena aku merasakannya dengan intuisi bukan dipahami melalui potensi akal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masih seperti hari kemarin. Masih bisa tertawa, bergembira. Meskipun aku tak tahu perasaanmu yang sesungguhnya yang tidak bisa kau bohongi. Aku bisa dikelabui, tapi perasaanmu sendiri takan pernah bisa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suaraku sedikit-demi sedikit terbenam hanyut dan terapung di batas samudra, kemudian tersapu angin lalu menggantung dilangit-langit. seperti Idea Plato yang menembus batas realitas-kepalsuan yang selalu bersentuhan dengan dunia indrawi keseharian kita―fenomena yang nampak. Bukan berasal dari realitas-kesejatian yang konstan, tetap, abadi, universal, ialah kebenaran yang tidak pernah berubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah yang harus aku pilih; diam dalam kebisuan? Atau berteriak dalam ketidakpastian?&lt;br /&gt;Ah.. aku terlalu bosan dengan harapan yang selalu saja menipu, menipu dan selalu berkonspirasi dengan hasrat. Tapi bukankah harapan juga implikasi dari manifestasi pilihan?&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Daspuy-demelancolicensoi&lt;br /&gt;[Lelekidisimpangkegilaan]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4048571085775261883-501220066013020783?l=penantangtuhan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penantangtuhan.blogspot.com/feeds/501220066013020783/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4048571085775261883&amp;postID=501220066013020783' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4048571085775261883/posts/default/501220066013020783'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4048571085775261883/posts/default/501220066013020783'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penantangtuhan.blogspot.com/2009/12/mentelanjangi-pilihan.html' title='men[telanjang]i pilihan'/><author><name>daspuy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02379759474672467858</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_meyFCGexN_I/Sf_HZB9pijI/AAAAAAAAABA/E7vsIZoQj74/S220/BadieullhaqQ(213).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4048571085775261883.post-6577265029406942658</id><published>2008-09-08T21:59:00.000-07:00</published><updated>2008-09-08T22:04:11.063-07:00</updated><title type='text'>SATU</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;WAKTU menunjukan jam sembilan. Sebuah institusi pendidikan yang tidak seperti biasanya; sepi, berdebu. Tak terlihat sisi kebebasan. Hanya sepotong moral yang pajang pada dinding yang lapuk. Aku berdiri di samping utara aula universitas, tatapannya penuh kecamasan, harap; pada sebuah keyakinan yang terpasung pada nyanyian profan kebebasan. Kepastiannya tak berkesudahan dan berujung. Ditengah amuk masa sang Godot menelanjangi nilai-nilai eksistensi manusia. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;            Jiwaku telah kering, semangatku menjadi retak. Yang aku nanti hanyalah sandaran pada sesuatu yang serba entah. Siraman nurani tak kunjung menyapa dalam kekalutan akan kasih sayang belaian kelembutan. Tubuhku kering kerontang yang siap ditebas algojo, seperti Syekh Siti Jenar yang melesap menuju keabadian seteh kepala dan tubuhnya terpisah. Atau Socrates yang dipaksa meminum Racun, demi kebaikan tertinggi. Tapi, apalah artinya diriku yang hanya bisa hidup dalam be;lenggu penderitaan.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;            Aku masih disini..! berdiri pada setumpuk barisan nisan yang dikebiri seonggok tinja yang bernama masa depan. Tubuhku kini menari-nari seperti ekstase fabel Jalaluddin Rumi. Kebahagiaan kini tercetak tebal dalam setumpuk buku yang lapuk, lusuh, usang dan berdebu oleh kehendak manusia yang ingin mendapat pencerahan darinya. The death autor “ seperti simbol yang takan pernah aku pahami yang tertera membentuk rangkaian hurup-hurup, membentuk sejentik kalimat yang ditarik dari realitas. Kemudian disimpulkan, ia menjelma menjadi ajaran dogmatis. Lalu kita mengamini ramai-ramai, tanpa menanyakan ulang struktur yang dibangunya. Kita terlanjur meyakini dan diyakini kebenarannya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;            Tubuhku tergores dalam lukisan abstrak. Yang tubuhnya seperti dipotong-potong; menari dan bersenandung dalam lingkaran semesta yang juga terpotong-potong. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang adalah waktu dimana pembukaan untuk mahasiswa pilihan tiga. dimana mereka yang tidak lulus tes masuk pilihan satu dan dua. Sedikit kantuk masih menyisakan tanya pada ruang yang kulenyapkan semalam, dua jam aku melesap dalam ketidak sadaran, merasakan kematian yang terasat singkat. Tanpa kutukan, kegetiran, kebehagiaan, penderitaan, sayang hanya sejenak aku berjmpa dengannya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;            Apa yang telah memaksaku untuk jatuh pada pengasingan diri. Apakah penderitaan, ketololan atau kebodohanku? Untuk terbiasa memahami realitas. Banyak sudah buku yang sudah berjejal di gang-gang otakku, mulai dari tema agama, kehidupan, sains, filsafat. Mulai dari Albert Camus, nabi Muhammad, Sidarta Gautama, Heidegger, Kierkegaard. Tapi terasa berjarak dengan diriku sendiri, bahkan cendrung menafikan eksistensiku sebagai makhluk berkesadaran.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;            Ku ayunkan kaki melangkah maju menuju stand jurusan AqFil, tak jauh dari tempat pengambilan formulir. Kuliriksetiap penjuru ruang; terpampang sejuta wajah penuh kecemasan. Dalam kesinisanku bergumam dalam hati;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“apa yang kalian harapkan masuk ke UIN (Universitas Islam Negeri)?, apakah kalian sudah tahu tentang kebobrokan UIN?. Sayangnya kalian tak tahu apa-apa”.&lt;br /&gt;Pecah lamunanku, ketika aku menyadari aku adalah salah satu mahasiswa sini.&lt;br /&gt;“ lantas apakah aku sendiri sudah menemukan jawaban itu?”&lt;br /&gt;Perasaan cemas segera menghinggapi bagai gemuruh banjir pada zaman Nuh. Rasa takut menyelimuti setiap himpitan ruang dan waktu. Semuannya bercampur dalam ketidak pastian dalam memahami hidup ini yang nampak absurd.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;            “Berapa orang yang masuk jurusan AqFil?” tanya Teh Hannah, ia adalah salah seorang dosen dijurusan AqFil, yang kebetulan juga alumni, yang duduk disampingku.&lt;br /&gt;“20 orang teh” jawabku. Dan kami pun larut dalam pikiran masing-masing, tak ada riak manusia, desiran angin yang bergemuruh, yang ada hanyalah kesunyian, keheningan dan kemuakan pada sesosok pikiran yang bernama kebahagiaan.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;            Aku coba untuk mengalihkan perhatian pada dua buah buku yang ku genggam. Memoar Seorang Filosof-nya Bryan Magee, dan satu lagi yang menggugah perasaanku adalah buku Justein Gaarder yang berjudul Vita Brevis. Aku larut dalam perasaan Floria bahkan menaruh simpatik padanya. Ketika dia dia dikhianati oleh kekasihnya yang sudah 14 tahun hidup bersama, bahkan telah dikaruniai anak yang diberi nama Adeodatus. Santo Agustinus sang kekasih Floria, seorang santo sekaligus Filsuf abad pertengahan. Ia memilih jalan pencerahan jiwa ketimbang kebahagiaan duniawi. Hidupnya diabdikan pada gereja “jalan Tuhan” yang tertuang dalam karyanya yang fenomenal berjudul Pengakuan (Confessiones). Dari sisi intelektualitasnya dia tidak diragukan lagi, gagasannya di pengaruhi aliran Manichean dan tercatat sebagai Platonism.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;            ST. Agustinus adalah sang penjelma Fir’aun, penebas setiap keindahan, pembunuh setiap kebahagiaan. ia telah menggores luka dihati Floria, luka yang kian hari-kian meradang dalam kekalutan jiwanya. Cinta yang Agustine sematkan pada Tuhan yang maha jahat, merelakan ikatan cinta yang dipersembahkan pada Tuhan yang mengerti pada keindahan, kelembutan dan kasih sayang.&lt;br /&gt;“Ibu kemana aja?, eh Ibu ngapain ada disini?&lt;br /&gt;“Ibu kan alumni AqFil”&lt;br /&gt;“ aku kira ibu itu alumni Tarbiyah.&lt;br /&gt;Percakapan itu sontak membuyarkan renunganku atas perasaan Floria yang perasaannya ditusuk-tusuk Agustinus. Lalu kututup buku itu rapat-rapat, tak ada pemberontakan bahkan amarah karena aku tidak menamatkan bacaannya, hanya kepasrahan yang coba ditawarkan oleh buku yang sejak dari tadi kucekik, bahkan dikala terhempas di atas meja. Hanya satu harapnya; menghendaki aku untuk berkehendak menelanjanginya lagi.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kualihkan pandanganku pada sesosok makhluk yang bernama perempuan. Aku tak tahu siapa inisialnya, tapi ia datang dengan temannya. Tak ada hal yang terbesit dalam pikiranku, maka sikap acuh saja menanggapi kehadirannya. Menyapanya dalam kebisuan. Lalu menghadirkan kembali sisi kesunyianku. Ia takan pernah mengerti akan apa yang kurasakan, menyangkal setiap kegelisahan, kerisauan, kegamangaan akan eksistensiku di dunia ini. Jadi non sense jika harus larut dalam dialektika antara aku dan ia. Belakangan aku mengetahui bahwa sosok wanita yang kupertanyakan bernama Widi, seorang mahasiswa Pendidikan Agama Islam (PAI) semester 3. setelah aku menanyakan pada seorang teman yang bernama Modjo-Arrasyid.&lt;br /&gt;##&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4048571085775261883-6577265029406942658?l=penantangtuhan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penantangtuhan.blogspot.com/feeds/6577265029406942658/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4048571085775261883&amp;postID=6577265029406942658' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4048571085775261883/posts/default/6577265029406942658'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4048571085775261883/posts/default/6577265029406942658'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penantangtuhan.blogspot.com/2008/09/satu.html' title='SATU'/><author><name>daspuy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02379759474672467858</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_meyFCGexN_I/Sf_HZB9pijI/AAAAAAAAABA/E7vsIZoQj74/S220/BadieullhaqQ(213).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4048571085775261883.post-8522158131222900822</id><published>2008-09-08T21:48:00.000-07:00</published><updated>2008-09-08T21:57:17.323-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Muakology'/><title type='text'>[REFUSED]</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;“Rather be forgotten than remembered for giving in”&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Jangan biarkan kami mati terlalu dini, sebelum kami sempat menentang matahari..! jangan biarkan keletihan dan kesabaran membunuh eksistensi kami, sebelum kami sempat mengajarkan pada mereka bagaimana caranya menari, bagaimana seharusnya hari-hari berbagi api, dan bagaimana mengikrarkan janji; kami tidak akan pernah mati…!&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Kampus [UIN] hari ini ternyata lebih banyak menggunakan dari cangcut berhala latta. Atas nama pendidikan, orang-orang didalamnya berbicara tentang etika, sopan santun, skill, kepemimpinan, pembelajaran, keahlian, dari baham patriotic yang tak ubahnya anjing penjaga neraka. Sebab; pada kenyataannya, ia tak lebih dari praktek manipulasi demi kepentingan beteung. Segala tingkah laku difatwa halal, tak menghiraukan jika daging saudaranya ditebas dan melepas jasad seperti pembantaian di Karbala. Segala hal dilabrak. Pendidikan, kemanusiaan, profesionalisme adalah wacana basi yang mesti dikurut, dikarungan, dibuang jauh-jauh dari peradaban, agar bangku jabatan bisa digenggam dan langgeng apapun caranya pasti akan ditempuh mesti harus munjung pada sang empunya jabatan. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kampus [UIN] hari ini ternyata lebih banyak dihuni oleh sekumpulan dosen-dosen yang dungu. Sebab, jauh-jauh institusi kampus kembali hanya untuk menghianati ranahnya sendiri. Ikrar kemajuan keilmuan berganti menjadi ambisi politik penghianatan. Lebok tah Kusia Anjing..!!. mengajar hanya menjual bacot murahan bin usang menghabiskan jam kewajiban, yang percis sama seperti 5 tahun yang lalu. Dan kembali berdiskusi dengan rekan sejawat bagaimana mengibarkan tirani. Modar sia anjing…!!&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kampus [UIN] hari ini ternyata lebih banyak memproduksi kotoran berlebel Profesor, Doktor, Master dan Haji, sebab system pendidikan yang dibudayakan hanya berhasil mengajarkan mereka bagaimana menggelapkan laporan keuangan, bagaimana berbagi keuntungan, bagaimana menjual nilai, bagaimana melacurkan keilmuan, dan bagaimana menyembah jabatan. Berkoar waktu sidang dan tertawa setelahnya, lalu bersembunyi dibalik pembenaran tafsir pribadi atas ayat-ayat suci.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kampus [UIN] hari ini ternyata lebih mirip dari barisan nisan yang dijaga oleh vampir penghisap nurani, siapapun yang ada didalamnya, tidak ada lagi yang sanggup menyematkan nama “oposisi”. Ada banyak orang yang bertitel tapi tidak mengerti apa itu profesionalisme, pimpinan, delegasi, dan amanah ditunjuk dan diberikan lewat negosiasi berbagi daging babi. Mahasiswa terus dibodohi dengan memberikan mereka seonggok fatwa dan kewajiban SPP yang terus dikorupsi, sementara masa depan mereka semakin absurd. Dan ijazah-nya tak laku dijual karena diperoleh lewat system yang amburadul. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kampus [UIN] hari ini ternyata sudah menipiskan batas antara kuliah dan pembelajaran Gomoroh. Antara fatwa suci dan amuk birahi. Kanan dan kiri, kebebasan dan tirani, palsu dan hakiki, kebenaran dan kebohongan.&lt;br /&gt;System boleh saja menindas kami, suara ini mungkin terdengar parau dan sunyi, tapi ikrar ini kan terus terpatri “lebih baik mati terlupakan, daripada diingat karena menyerah”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembunuh ke[ramai]an&lt;br /&gt;[inspired by homicide ‘nd Refused] &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4048571085775261883-8522158131222900822?l=penantangtuhan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penantangtuhan.blogspot.com/feeds/8522158131222900822/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4048571085775261883&amp;postID=8522158131222900822' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4048571085775261883/posts/default/8522158131222900822'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4048571085775261883/posts/default/8522158131222900822'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penantangtuhan.blogspot.com/2008/09/refused.html' title='[REFUSED]'/><author><name>daspuy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02379759474672467858</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_meyFCGexN_I/Sf_HZB9pijI/AAAAAAAAABA/E7vsIZoQj74/S220/BadieullhaqQ(213).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4048571085775261883.post-1012559017492395098</id><published>2008-05-30T22:41:00.000-07:00</published><updated>2008-05-30T22:46:47.517-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Teologi Keberagamaan Pluralisme Liberatif</title><content type='html'>&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Meskipun ada bermacam-macam, tujuannya adalah satu. Apakah anda tidak tahu bahwa ada banyak jalan menuju Ka’bah?....oleh karena itu apabila yang anda pertimbangkan adalah jalannya maka sangat beraneka ragam dan sangat tidak terbatas jumlahnya; namun pabila yang anda pertimbangkan adalah tujuannya, maka semuannya terarah hanya pada satu tujuan.”&lt;br /&gt;[Jalaludin Rumi]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AGAMA adalah obyek perbincangan dan pergerakan yang senantiasa terus menarik untuk didiskusikan sepanjang zaman, rentangan waktu dari hal-hal yang berbau mitos hingga dimana sains mendominasi dalam berbagai hal. Hal ini di sebabkan karena fungsi dan peran agama yang unik dan menarik, yaitu sebagai sesuatu yang berwajah ganda. Agama, di satu sisi menjadi pedoman kehidupan, perdamaian, dan tuntunan moralitas demi keselamatan baik individu maupun social secara universal. Akan tetapi, di sisi lain agama sering menjadi penyebab konflik, peperangan, kultus, dan kekacauan atau chaos bagi kelangsungan hidup umat manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Di samping itu, fenomena dan fakta yang terjadi di lapangan, agama sering dicampuradukkan dengan penafsiran keagamaan. Maksudnya; perbedaan itu sering berujung pada pemberian vonis kesalahan terhadap orang lain yang tidak sepaham. Adanya truth claim; pada kelompok sendiri, dan kelompok yang lain dianggap jauh menyimpang dari kebenaran diluar dari golonganya, agamanya, keyakinannya dan dicap sesat atau murtad (orang yang keluar dari agama), sedangkan yang menurut mereka benar adalah apa yang jalani menurut keyakinannya. Seperti apa yang dikemukakan oleh kelompok konservatif garis keras yang menolak fakta pluralisme, yang terobsesi pada sebuah fiksi bahwa agama mereka homogen dan murni dari unsur-unsur kebudayaan. Fiksi itu tentu saja berbahaya karena menjadi intoleran terhadap kemajemukan keagamaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada konteks ini tejadi klaim kebenaran (truth claim) secara eksklusif, dimana kelompok yang memiliki keabsahan karakteristik beragama seperti ini, keabsahan teologinya ada pada nya, dan keselamatan (salvation claim) hanya ada dan menjadi milik mereka pula. Memperhatikan tanggapan pesimisme Wilson terhadap keberagamaan seperti itu sesungguhnya merupakan kritik keras dan peringatan terhadap peranan semua agama. Bahwasanya dalam setiap agama pasti ada penganut yang memiliki potensi negatif dan destruktif yang membahayakan, yang mengancam pada tingkat kekacauan (chaos). Sungguh sangat ironis ketika agama sudah hilang semangat kemanusiaannya dalam suatu peradaban maka ia akan tampil sebagai instrumen yang dapat menhancurkan peradaban maka sudah pasti ia akan tampil sebagai instrumen yang menghancurkan manusia dan peradabannya. Munculkan klaim kebenaran dan penafsiran agama itu juga menjadikan para pemeluk agama dan tokoh agama berperilaku dengan menggunakan standar ganda (double Standards) kebenaran. Maksudnya baik orang Islam ataupun non Islam selalu menerapkan standar-standar yang berbeda untuk dirinya, biasanya standar yang bersifat ideal dan normative untuk agama sendiri, sedangkan terhadap agama lain, memakai standar lain yang lebih bersifat realistis dan historis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paradigma Keberagamaan&lt;br /&gt;Penafsiran dan keberagamaan, pada dasarnya muncul sesuai dengan tingkat pengetahuan, lingkungan sosial dan kultural, serta keyakinan yang dibawanya sejak dari kecil (agama orang tua). Hingga dewasa ini, paradigma keberagamaan umat manusia umumnya bisa ditipologikan menjadi tiga golongan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, paradigma eksklusif, pandangan yang dominan ada pada kalangan ini, adalah bahwa agama merekalah yang menjadi satu-satunya jalan keselamatan, sedangkan agama lain semuanya menuai kesalahan. Bagi agama Kristiani, pandangan ini menganggap bahwa Yesus adalah satu-satunya jalan untuk keselamatan. “akulah jalan kebenaran dan hidup, tidak ada yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku” , sehingga muncullah perumusan istilah extra ecclesiam nulla salus (tidak ada keselamatan di luar Gereja) yang pernah dikukuhkan dalam Konsili Florence 1442. Sedangkan bagi kalangan Islam, landasan teologisnya adalah penafsiran secara tekstual pada ayat-ayat Al Quran tentang kebenaran tunggal agama Islam. “sesungguhnya agama (al-din) disisi Allah adalah Islam” dan ada ayat lain yang memperkuat ayat ini berbunyi “barang siapa mencari agama selain Islam, maka (agama itu) sekali-kali tidak akan diterima dari Dia, dan dia diakhirat termasuk orang-orang yang rugi” Implikasi sosial dari pandangan-pandangan tersebut adalah tertutupnya pintu dialog dan kerja sama antar agama. Bahkan, bisa jadi keragaman pemikiran dalam agama sejenis tertutupi oleh dominasi sekelompok paham. Pluralisme adalah pondasi dalam membangun masyarakat demokratis, bukan paham yang merusak agama atau anti agama, yang merupakan statement bagi para penentang paham pluralisme yaitu kaum Tradisional, fundamentalis dan konservatisme yang selama ini mereka teriakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, paradigma inklusif, menurut kalangan ini agama-agama itu pada dasarnya semuanya berasal dari Yang Satu. Sedangkan perbedaan agama, hanyalah jalan menuju ke Yang Satu dengan mereka, seluruhnya ditulis oleh Allah Ta’ala bahwa menyesuaikan diri dengan pembawa, kaum penerima, bahasa, serta lingkungan geografis. Menurut pandangan Umar Sulaiman Al-asyqar, seorang sarjana Muslim yang berdomisili di Kuwait, memaparkan pandangaannya tentang kesatuan agama menegaskan bahwa agama yang diturunkan Allah kepada Nabi dan rasul adalah satu, yaitu Islam. Islam bukan nama untuk satu agama tertentu, tetapi adalah nama yang didakwahkan oleh semua nabi. Senada dengan apa yang dikatakan Nurcholish Madjid. “ Maka semua nabi itu dan para pengikut mereka adalah orang-orang muslim. Hal ini menjelaskan bahwa firman Allah dalam (Q 3:85 dan Q 3:19) tidaklah khusus tentang orang-orang (masyarakat) yang kepada mereka nabi Muhammad s.a.w diutus, melainkan hal ini merupakan suatu hokum umum (hukm amm, ketentuan universal) tentang manusia masalau dan manusia kemudian hari. Kesemuanya itu mengisyaratkan adanya titik temu agama-agama ini harus dijadikan sarana untuk membuka diri atau bersimpati terhadap kebenaran agama orang lain. Kalau Allah menghendaki, maka umat manusia itu menganut satu agama saja, tetapi Allah menciptakan beragam agama, agar bisa menguji siapa yang paling baik amalnya, yang diharuskan adalah berlomba-lomba dalam kebajikan (Fatabikhul khairat)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, paradigma pluralis atau paralel. Menurut kalangan ini, setiap agama pada dasarnya berbeda dan mempunyai jalan keselamatan sendiri. Namun ada persamaan yang senantiasa ada, yaitu nilai-nilai perenial agama yang mengajarkan tentang kebaikan, perdamaian, melarang kejahatan, serta tolong-menolong dengan orang lain. Tokoh paradigma ini adalah John Harwood Hicks (1973) yang melakukan revolusi dalam teologi agama-agama. Menurut dia, teologi agama-agama harus senantiasa diperbarui guna menyesuaikan diri dengan pengetahuan manusia dan perkembangan zaman. Paradigma baru itu adalah dialog dan kerja sama antaragama untuk menciptakan kemanusiaan universal dan keselamatan sosial demi perdamaian di muka Bumi. Metafor yang mengukuhkan paradigma pluralisme agama adalah pelangi. Maksudnya, pada dasarnya semua agama mempunyai warna dasar yang sama, yaitu warna putih. Akan tetapi, warna ini sering tidak terlihat dari warna luarnya yang berupa hijau, biru , kuning, dan sebagainya, yang sebetulnya menyimpan warna putih juga (baca-Kristen, Budha, Islam, dan sebagainya). Warna dasar pelangi inilah yang dalam agama dinamakan sebagai "agama primordial" atau "nilai perenial".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, perbedaan agama pada kalangan ini diterima sebagai pertimbangan dalam prioritas "perumusan iman" dan "pengalaman iman". (Islam Pluralis, hal. 49-50). Sama apa yang dirumuskan oleh Sayyid Hossein Nasr, setiap agama pada dasarnya distruktur oleh dua hal tersebut. Sikap pluralis bisa diterima jika seandainya perbedaan antara Kristen dengan Islam diletakan dalam posisi yang lebih penting diantara keduannya. Islam mendahulukan perumusan iman, dan pengalaman iman mengikuti perumusan iman tersebut. Sedangkan dalam ke Kristenan mendahulukan pengalaman iman (dalam hal ini pengalaman akal Tuhan yang menjadi manusia pada diri Yesus Kristus, yang kemudian disimbolkan pada sakramen Misa dan Ekaristi) dan perumusan iman mengikuti pengalaman ini, dengan rumusan dogmatis melalui Trinitas.&lt;br /&gt;Ketiga tipologi paradigma keberagamaan di atas bukanlah hal yang kaku dan tetap. Akan tetapi, semuanya adalah persoalan pilihan kehidupan dan keyakinan. Apa yang kita anggap sesuai dengan keyakinan kita tentang konsepsi teologi tanpa menjustifikasi penganut lain yang tidak sepaham. Hal itu menjadi masalah tersendiri, ketika realitas sosial dan masyarakat yang ada menunjukkan fakta yang berbeda dengan keyakinannya. Artinya, paradigma keberagamaan itu bisa mengganggu orang lain dan kurang memberikan manfaat pada tatanan sosial yang ideal.&lt;br /&gt;Fakta dan keniscayaan pluralisme&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pluralitas adalah realitas yang betul-betul terjadi di sekitar kehidupan kita sehari-hari. Hal itu nampak pada pluralitas agama, budaya, latar belakang pendidikan, ras dan suku, serta kesenangan bahkan jalan hidup masing-masing manusia. Pluralitas atau keragaman berbagai hal itu sebetulnya memang sebuah hal yang alami tanpa melalui rekayasa atau kehendak manusia. Maksudnya, itu adalah kehendak Tuhan sebagai pencipta manusia dan seluruh kehidupan yang ada di muka bumi. Tentunya, dengan tujuan agar perbedaan itu diambil aspek positifnya sebagai jalan pemandu untuk bekerja sama, intropeksi diri, dan tolong-menolong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keragaman di atas pada awalnya memang tidak menimbulkan persoalan atau gejolak sosial. Mari kita lihat apa yang yang merjadi konflik di Indonesia akhir-akhir ini, dimana konflik merebak dengan mengusung bendera agama dan ras, kalau kita menelaahnya sesungguhnya konflik tersebut berawal dari factor social, ekonomi, dan politik seperti kerusuhan bernuansa SARA menewaskan ribuan manusia seperti kerusuhan Ambon, timor-timur, Sambas dan lainnya adalah sebagian dari daftar panjang kerusuhan yang terjadi karena dilator belakangi oleh konflik agama. kerusuhan masaal yang terjadi tahun 1998 dimana ratusan gereja dan tempat usaha etnis China dibakar, dirusak dan dijarah, bahkan yang tidak manusiawi anak-anaknya diperkosa bahkan ada yang sampai dibunuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang terjadi baru-baru ini adanya bom bunuh diri yang mengatasnamakan agama yang berjuang menegakan ajaran Tuhan dimuka bumi Pada dasarnya apayang dilakukan adalah hal yang bodoh kerena islam tidak mengajarkan kekerasan. Paradigma keber-Agamaan seperti itu patut dikatakan keliru karena agama diturunkan dari Tuhan untuk kepentingan manusia, bukan dari Tuhan untuk kepentingan Tuhan, dan bukan pula dari manusia untuk Tuhan. Melainkn dalam hal ini Tuhan berposisi sebagai sumber spirit moral. Dari Nya manusia berasal, kepadanya pula manusia akan kembali untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya selama hidup didunia. Agama pada dasarnya bersifat kemanusiaan tetapi bukan berarti kemanusiaan yang berdiri sendiri melainkan kemanusiaan yang memancarkan dari wujud Tuhan. oleh sebab itu, sebagaimana nilai kemanusiaan tidak mungkin bertentangan dengan nilai keagamaan maka nilai keagamaan mustahil menentang nilai kemanusiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menjadi kecurigaan; jangan-jangan ada kekuatan lain yang menggerakannya sehingga yang muncul adalah konflik yang dibangun seakan-akan bermuatan SARA. Karena mereka sering dibarengi dengan keinginan untuk menguasai, (social, politik dan ekonomi) meminjam istilah Nietzsche - will to power -, sering menjadikan mereka menghalalkan segala cara. Penghalalan segala cara adalah naluri hewaniah manusia yang sering muncul ke permukaan. Padahal, ada sebuah nilai keluhuran manusia berupa akal sehat dan hati nurani yang harus senantiasa dipertimbangkan ketika melakukan sebuah tindakan.&lt;br /&gt;Nilai keluhuran dan kemanusiaan itu ketika diperhadapkan dengan realitas pluralitas, adalah sebuah sikap yang menghargai perbedaan disertai dengan kearifan menerima dan mengakui kebenaran orang lain. Dalam keberagamaan, sikap ini mewujud dalam implementasi paradigma pluralisme agama sebagaimana dijelaskan di atas. Oleh karena itu, dalam realitas pluralitas yang terbentang di hadapan kita, sebuah sikap pluralis dalam beragama adalah sebuah keniscayaan yang mesti dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Menurut Amin Abdullah (1999), realitas pluralitas agama yang belum berlanjut pada pluralisme keagamaan itu, disebabkan oleh adanya hegemoni kepentingan dan egoisitas pada sekelompok orang atau golongan tertentu. Tindakan dan kepentingan itu juga sering mereka justifikasi dengan landasan teks-teks keagamaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anehnya, penafsiran teks keagamaan itu sering mereka lakukan secara terpisah dengan realitas sosial yang terbentang di permukaan. Padahal, untuk menciptakan sebuah pluralisme keagamaan meniscayakan penafsiran yang mengompromikan antara aspek historisitas dan normativitas teks keagamaan (baca-kontekstualisasi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pandangan pluralisme yang dimaksudkan di sini bukan berarti mencampuradukkan atau membuat "gado-gado" agama, atau dalam istilah lain disebut sinkretisme yaitu pandangan yang mencampuradukan semua agama atau menjalankan ajaran semua agama sekaligus karena semuannya dianggap memberikan keselamatan (Jalaludin Rakhmat) ;namun justru penghargaan dan penggalian nilai-nilai kebenaran universal agama untuk kebaikan bersama. Seperti ditegaskan oleh Alwi Shihab, bahwa pluralisme bukanlah relativisme an sich, namun juga menekankan adanya komitmen yang kukuh pada agama masing-masing dan membuka diri atau bersifat empati terhadap kebenaran agama lainnya (Islam Inklusif, Mizan, 1997). Jadi, yang perlu digarisbawahi adalah sikap untuk menjunjung tinggi kebaikan bersama dan menghindari klaim tunggal kebenaran. karena setiap pemeluk agama lain terdapat keselamatan.&lt;br /&gt;Pluralisme keagamaan dan praksis sosial&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esensi kebenaran sebuah agama sejatinya terletak pada jawabannya atas problem kemanusiaan. Sebab, sesungguhnya agama sejak awal mempunyai misi suci untuk menyelamatkan dan menuntun manusia menuju jalan kehidupan yang baik dan benar. Maka, pernyataan Gregory Baum (1999) yang menyatakan bahwa kebenaran agama terletak pada komitmen solidaritas dan visi emansipatoris, sangatlah relevan. Bila agama tidak menunjukkan kedua hal itu lewat penafsiran dan perilaku pemeluknya, maka lambat laun agama pasti menjadi komoditi yang tidak laku di pasaran. Bahkan akan sampai pada pembunuhan nilai-nilai spiritual seperti yang terjadi akhir-akhir ini dimana agama dikambing hitamkan penyebab berbagai konflik horizontal. Jika seorang pemeluk agama bentrok dengan pemeluk agama lain akan dianggap sebagai “sebuah tindakan melawan kezaliman” sedangkan jika orang yang berada di agama lain akan berpikiran sebaliknya.&lt;br /&gt;Oleh karena itu, pluralisme keagamaan haruslah juga menghadapkan dirinya dengan problem kemanusiaan kontemporer. Maksudnya, teologi pluralis haruslah mempunyai tujuan spesifik untuk membebaskan kesengsaraan dan penderitaan umat. Hal tersebut bisa dilakukan, jika para agamawan dan umat beragama mengembangkan - meminjam istilah Erich Fromm - keberagamaan yang humanistik. Artinya, mereka senantiasa peduli, peka, dan mempunyai komitmen terhadap penderitaan yang terjadi di sekelilingnya. Kepedulian dan kepekaan ini, menurut Paulo Freire, akan terwujud jika mereka memiliki kesadaran kritis dalam melihat setiap kejadian dan permasalahan.&lt;br /&gt;Bila teologi pluralis itu tidak dikembangkan dan dikawinkan dengan tujuan pembebasan kemanusiaan, maka ia akan sekadar menjadi obyek ilmu pengetahuan yang abstrak dan menggantung di langit; hanya menjadi obyek ilmu pengetahuan yang tidak mempunyai dimensi praksis. Padahal, paradigma ilmu sosial tradisional yang obyektif dari ideologi telah dirubuhkan oleh paradigma ilmu sosial kritis yang membebaskan (Jurgen Habermas, 1993). Maka, teologi pluralis sudah selayaknya mempunyai dimensi pembebasan dan tujuan ideologi untuk kepentingan sosial yang mencerahkan.&lt;br /&gt;Sebab, jika tidak dilakukan, teologi itu justru bisa dimanfaatkan oleh sekelompok agamawan guna melanggengkan status quo kekuasaan dan pemberangusan kritisisme masyarakat seperti yang terjadi menimpa umat Islam sekarang dimana hanya tunduk pada titah sang Kyai yang hanya mendasarkan agama secara tekstual tradisional, sehingga santrinya didorong dipaksa bersikap taklid terhadap keyakinan baik secara teologis maupun dalam tataran praksis.&lt;br /&gt;Sekedar Penutup&lt;br /&gt;Akhirnya, keberagamaan pluralis adalah sebuah agenda pekerjaan mendesak yang membentang di hadapan kita. Mengingat, banyak problem-problem ekonomi, politik, sosial, keamanan, dan kemanusiaan lainnya yang tidak lekas terselesaikan akibat ketidakseriusan sebagian orang. Maka, kaum agamawan dan umat beragama hendaknya memelopori sebuah praksis sosial yang berwujud pada kesadaran kritis dan keterlibatan pada upaya demokratisasi dan pengentasan krisis terutama krisis berfikir. Apa yang kita harapkan adalah munculnya pandangan-pandangan keagamaan yang lebih progresif, inklusif, dan kesaling pengertian antar agama, yang telah menjadi obsesi cultural maupun teologis kita di Indonesia.&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;Daftar Pustaka&lt;br /&gt;Azra, Azyumardi. Reposisi Hubungan Agama dan Negara: Merajut Kerukunan Antar Umat. Jakarta: Kompas, 2002.&lt;br /&gt;Akbar S Ahmed. Postmodernisme and Islam, Terjemahan Afif Muhammad. Mizan, Bandung, 1998.&lt;br /&gt;Alwi Shihab, Islam Inklusif, Mizan, Bandung: 1999.&lt;br /&gt;Bulletin Kebebasan. Edisi 01,02,03 dan 04. Lembaga Studi Agama dan Filsafat. Jakarta; 2006&lt;br /&gt;Jurnal Emanasi, edisi 01, Lembaga  Kajian dan Penulisan UIN SGD Bandung, 2001&lt;br /&gt;John Hickk, God and the Universe of Faiths, One World Publications Oxford, i993&lt;br /&gt;Madjid, Nurcholish. Islam Doktrin Dan Peradaban: Sebuah Telaah Kritis Tentang Masalah Keislaman, Kemanusiaan, Dan Kemodernan, Paramadina, Jakarta, 1995, Cet 3&lt;br /&gt;Madjid, Nurcholish. Pluralisme di Indonesia, jurnal Ulumul Qur’an, No 03, Vol VI i995&lt;br /&gt;Madjid, Nurcholish. Masyarakat Religius, Paramadina, Jakarta, 1997&lt;br /&gt;Muhammad, Afif. Islam Mazhab Masa depan: Menuju Islam Non-Sekterian. Bandung: Pustaka Hidayah, 1998&lt;br /&gt;Rachman, Budhy Munawar. Islam dan Pluralisme; Nurcholish Madjid. Paramadina; Jakarta 2007&lt;br /&gt;Rachman, Budhy Munawar. Pluralisme dan Masalah Teologi Agama-agama, 1999&lt;br /&gt;Osman, Fathi. Islam, Pluralisme dan Toleransi keagamaan. Dalam pandangan al-Qur’an, kemanusiaan, sejarah, dan peradaban. Paramadina; Jakarta 2006&lt;br /&gt;Schoun, frithjop. Mengenai jejak-jejak agama abadi (Sur Les  traces de la Religion perenne) diterbitkan pada tahun 1982&lt;br /&gt;Schoun, frithjop. Mencari titik temu Agama-agama, terj, Safroedir bahar dari judul asli, The Transenden Unity of Religion, Pustaka Firdaus, Jakarta, 1987&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4048571085775261883-1012559017492395098?l=penantangtuhan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penantangtuhan.blogspot.com/feeds/1012559017492395098/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4048571085775261883&amp;postID=1012559017492395098' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4048571085775261883/posts/default/1012559017492395098'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4048571085775261883/posts/default/1012559017492395098'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penantangtuhan.blogspot.com/2008/05/teologi-keberagamaan-pluralisme.html' title='Teologi Keberagamaan Pluralisme Liberatif'/><author><name>daspuy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02379759474672467858</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_meyFCGexN_I/Sf_HZB9pijI/AAAAAAAAABA/E7vsIZoQj74/S220/BadieullhaqQ(213).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4048571085775261883.post-48957232552988290</id><published>2008-05-26T23:25:00.000-07:00</published><updated>2008-05-26T23:26:09.121-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='poetry'/><title type='text'>ADIOSSOLITERIUM</title><content type='html'>Mayz; bila ziarahku asai disini, sebelum akhirnya kulekatkan&lt;br /&gt;Nasib ini, izinkan aku melesap dipertapaan tanpa ada&lt;br /&gt;angisan. Usia bukan milik kita, may&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya satu, may;&lt;br /&gt;Jalarkan sebaris edellweis senyumu dipusaraku. Aku&lt;br /&gt;Pergi ketempat yang damai nankekal; seabadi potretmu&lt;br /&gt;dihatiku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki disimpang ke[gilaan]&lt;br /&gt;Julyduarebutujuh&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4048571085775261883-48957232552988290?l=penantangtuhan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penantangtuhan.blogspot.com/feeds/48957232552988290/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4048571085775261883&amp;postID=48957232552988290' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4048571085775261883/posts/default/48957232552988290'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4048571085775261883/posts/default/48957232552988290'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penantangtuhan.blogspot.com/2008/05/adiossoliterium.html' title='ADIOSSOLITERIUM'/><author><name>daspuy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02379759474672467858</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_meyFCGexN_I/Sf_HZB9pijI/AAAAAAAAABA/E7vsIZoQj74/S220/BadieullhaqQ(213).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4048571085775261883.post-389108092464737211</id><published>2008-05-26T23:22:00.000-07:00</published><updated>2008-05-26T23:24:26.755-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='refleksi'/><title type='text'>men[cinta]imu</title><content type='html'>SYAHDAN, suatu hari seorang kakek berucap pada pemuda yang dicampakkan cintanya, “adakah engkau mencintai sesuatu yang diharapkan datang menyapamu: sekalipun berasal dari dunia antah-berantah?”. Pemuda itu hanya diam.&lt;br /&gt;Manusia seringkali dihadapkan pada persoalan paradoks hinaan dan pujian, sedihan dan kebahagiaan; yang berbaur dalam kefanaan. Cinta, selain dianggap sebagai omongan para bencong, pada kenyataannya memang tabu diperbincangkan. Pertanda manusia belum cukup dewasa menerima segala ketaksempurnaannya.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada hal yang lebih menarik mengapa cinta ada di ruang privat: sebab di sana ada jerembab kategori perempuan dan lelaki; temali-keterikatan: sisanya hanya perpapasan antara “[Bu]Clitor dan P[ak]Enis”. Tapi bagaimana jika percintaan tak diasumsikan sebagai persekongkolan antardaging?&lt;br /&gt;Sartre pun juling menatap cinta, “Seseorang mencintai lawan jenisnya karena ingin menguasai yang dicintainya; baik pikiran, waktu, dan tubuh.” Maka cinta menghantam dari ketaksadaran kita. Dia datang, tak pernah diduga; lalu diam dalam struktur anatomi tubuh, mengkarat, dan mendarah daging! Ya, memang ini daging. Tapi Sartre mungkin lebih senang bilang: daging-akal-bulus.&lt;br /&gt;Tapi dapatkah jika cinta digambarkan sebagai sosok yang menyeramkan: kekerasan yang secara diam-diam diidamkan bersama-sama?&lt;br /&gt;Ternyata manusia masih berkutat pada hal-hal sepele. Orang terkadang mencintai lawan jenis didasarkan pada kebutuhan biologisnya, bukan berasal dari cinta un sich, pada kesungguhan wujudnya. Bahkan, suami-istri yang saling mencintai sekalipun; ketika prosesi intim, yang berkata bukan cinta; tapi nafsu. “Senggama juga terjadi di kepala, Brow!” tiba-tiba Erica Jong teriak!&lt;br /&gt;Apakah cinta dan nafsu punya kesamaan, atau pembeda. “Tapi bagaimanapun,” ungkap pemuda itu akhirnya mengurai kata, “yang kini nyata adalah keduanya berakhir di persinggungan gesek dan kejang. Jadi mungkin cinta itu bahasa halusnya, dan nafsu bahasa kasarnya. Toh keduanya mempunyai tujuan yang tak terlalu beda, simulasi birahi: sisanya cuma mengaduk cairan luka. Hasrat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[lelakidisimpang [kegilaan]&lt;br /&gt;ciung wanara 2007&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4048571085775261883-389108092464737211?l=penantangtuhan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penantangtuhan.blogspot.com/feeds/389108092464737211/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4048571085775261883&amp;postID=389108092464737211' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4048571085775261883/posts/default/389108092464737211'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4048571085775261883/posts/default/389108092464737211'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penantangtuhan.blogspot.com/2008/05/mencintaimu.html' title='men[cinta]imu'/><author><name>daspuy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02379759474672467858</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_meyFCGexN_I/Sf_HZB9pijI/AAAAAAAAABA/E7vsIZoQj74/S220/BadieullhaqQ(213).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4048571085775261883.post-7524896135036554642</id><published>2008-05-26T23:09:00.000-07:00</published><updated>2008-05-26T23:10:51.775-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='refleksi'/><title type='text'>Izinkan [aKu Kenal Kamu]</title><content type='html'>Sebuah refleksi atas tatapan kita kemarin-lusa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disaat perjumpaan denganmu&lt;br /&gt;Menatap senyum-Mu adalah segalanya&lt;br /&gt;Hanya bagiku kaulah segalanya&lt;br /&gt;Yang berusaha menasihati dalam perjamuan ini.&lt;br /&gt;Tapi hanya sesaat kita berjumpa&lt;br /&gt;Setelah itu; kita berpisah dalam&lt;br /&gt;Arah yang berlainan&lt;br /&gt;Seperti kayu yang menjadi abu&lt;br /&gt;Lalu tertiup angin&lt;br /&gt;Aku bagaikan puing batu kelabu&lt;br /&gt;Sekarat dihadapanmu&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku lepas digergaji waktu&lt;br /&gt;Dan merenungi !&lt;br /&gt;Setiap bayang-bayang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekedar Prolog;&lt;br /&gt;Bintang gemintang yang menghiasi gelap malam menebarkan khayalnya ke langit yang diselimuti kabut. Khayal yang melekat dilerung-lerung ingatannya memunculkan citra ke-Akuan yang merana dan menderita. Sambil menyaksikan bentangan sayap-sayap khayalnya aku berkata “apakah aku akan kehilanganmu, karena aku merasa memilikimu” khayalku adalah kesunyian yang paling menyiksa jiwaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kesunyian; bulan menghilang&lt;br /&gt;Ketika malam menggenapkan nada burung&lt;br /&gt;Pada batang cemara sunyi.&lt;br /&gt;Ada yang berderai! Ketika;&lt;br /&gt;Seperti jiwa yang bersitahan&lt;br /&gt;Meredam amuk badai dalam gerimis terakhir&lt;br /&gt;Yang menyeret luka telanjang&lt;br /&gt;Keujung selatan paling sunyi-merekahlah kesumat&lt;br /&gt;Dipenghujung malam,&lt;br /&gt;Terdiam lukai setetes nista.&lt;br /&gt;Ketika terselimuti nyanyian subuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkadang kita memaknai kebenaran sebatas realitas yang nampak, seringkali terjebak pada hal-hal bersifat inderawi. Sesuatu dikatakan real Apabila dapat menyentuh kulit, sebatas mata memandang, alunan bunyi yang masuk lewat telinga dan lain sebagainya. Itu hanyalah gambaran bagaimana manusia dapat mengenal wujud realitas yang material tidak menjelaskan kebenaran yang mutlak, kalau meminjam istilah Plato adalah bayangan dari dunia idea. Lalu timbul pertanyaan apakah realitas itu tetap atau berubah? adakah hubungan antara yang kekal dan abadi, di satu pihak, dengan yang berubah? di pihak lain karena Segala sesuatu terus berubah, tak ada yang diam. Realitas yang terus bergerak dianalogikan seperti aliran sungai. Hidup terus berjalan [menjadi] tanpa kita pernah mengerti tentangnya kita tak bisa masuk dua kali ke dalam aliran sungai yang sama.&lt;br /&gt;Hanya ada satu yang benar-benar nyata, yang tidak berubah, yaitu Logos atau rasio (prinsip yang tak berubah atau sebab imanen dalam segala perubahan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapakah Aku?&lt;br /&gt;Merayapi lembah gunung ada luka dalam duka, dilempar kedalam kawah memanjat tebing-tebing sunyi memasuki pintu mistery menggores batu dengan kata sederhana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah tubuhku lelah berlari dari kekaguman&lt;br /&gt;Untaian lisan; tak lebih dari sekedar bualan.&lt;br /&gt;Tulisan hanya pengantar lelap.&lt;br /&gt;Pada sebatang pohon,&lt;br /&gt;Kusandarkan mimpi atas tubuh yang terkoyak.&lt;br /&gt;Sebelum langit berhenti.&lt;br /&gt;Sekejap;&lt;br /&gt;Matapun tak mampu memandang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Gilang pertama kalinya melihat sosok aku yang urakan, kucel, dekil, dan gondrong tak ke urus. Pasti akan punya kesan negatif terhadap penampilanku, sah-sah saja bukan saja kamu yang beranggapan seperti itu bahkan hampir semua orang beranggapan apa yang kamu persepsikan tentang aku. Kenapa orang menstigmakan pandangannya seperti itu? Adakah yang salah dengan diriku? jika suatu objek dipersepsi hanya melalui bentuk visual, maka yang nampak hanyalah sebagian bentuknya saja karena kebenaran yang absolut berada di dunia idea. Dunia yang nampak hanyalah pantulan dari bayangan dunia yang sebenarnya. jangan-jangan semua apa yang kita anggap sebagai kebenaran hanya dilihat dari persepsi indrawi.tidak dalam kaidah subtansi yang sesungguhnya. Atau yang lebih parahnya lagi menurut pandangan orang lain. “Suatu kesalahan yang di ulang-ulang akan menjadi kebenaran”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti cucuran air mata&lt;br /&gt;Membuyar di kelopak pandangan.&lt;br /&gt;Bergemuruh hentakan,&lt;br /&gt;Sudut-sudut alam.Temaram siang itu;&lt;br /&gt;Nampak riuh disiram rintik hujan&lt;br /&gt;Menjadikanya segenggam&lt;br /&gt;Harapan yang telah mati;&lt;br /&gt;Mati dalam mengharapkan mu&lt;br /&gt;Sebagai dewi yang datang dari nirwana&lt;br /&gt;Tatapan;&lt;br /&gt;yang kau siratkan kemarin petang.&lt;br /&gt;Melambai dibarengi Seutas senyum,&lt;br /&gt;Kini; tertinggal Dalam kesadaraan&lt;br /&gt;Seiring nafas berhembus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau boleh jujur aku anti kemapanan, penampilanku selama ini adalah bentuk protes terhadap pandangan umum. ketika kebenaran hanya sebatas simbol maka nalar (pikiran) manusia telah hilang sebagai makhluk yang konon paling sempurna yang diciptakan Tuhan. Orang dikatakan baik atau sopan apabila ia berpakaian rapi, selalu pake kameja, rajin kemasjid. Padahal kita ga tahu apa yang ada didalam pikirannya atau dibelakang kita berbuat apa, yang tidak semestinya sebagai makhluk ber-akal. Bagiku kebaikan itu adalah proses menjadi.&lt;br /&gt;Adakah hari esok?&lt;br /&gt;Ku-kenal kamu dari jauh, bergetar hati melihatmu&lt;br /&gt;Matamu bening, suaramu bening&lt;br /&gt;Semangatmu hening, wajahmu lembut&lt;br /&gt;Senyummu lembut wujudmu getarkan rasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika malam dibungkus selimut hitam, saat orang meringkuk dikedinginan dalam tidur lelap, Aku masih terjaga, duduk dibalik batu yang bisu di saksikan awan yang muram nampak bergejolak oleh goncangan badai. Ada sesuatu yang membuat aku enggan untuk melenyapkan diri dari alam ketersadaran, yang selalu hadir dan mengusiknya hingga akhirnya aku harus merenung dan memikirkan semua itu yang mesti ada jawaban.&lt;br /&gt;Dengan pengalaman aku mengenal kamu,&lt;br /&gt;Melalui ingatan wajah-mu masih terkenang,&lt;br /&gt;Kesaksian akan itu tak bisa terbantahkan.&lt;br /&gt;Berangkat dari rasa ingin tahu;&lt;br /&gt;Tersirat berbagai pertanyaan?&lt;br /&gt;Nalarku menarik pada kesadaran.&lt;br /&gt;Dengan logika; luruskan jalan kesimpulan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah melalui jalan Skeptisme, Subjektivisme, Relativisme, Nihilisme, atau dengan mistisme, ah persetan dengan semua itu! Tiupan angin menusuk tulang, hawa dingin menyelimuti tubuh yang merangsek tulang, sesekali aku bergetar dan menggigil Berbatang-batang rokok telah kuhisap, dua gelas kopi hitam habis ku reguk, namun perasaan itu semakin besar menghujam hingga akhirnya aku pasrah dalam ketertindasan memaknainya. Sambil membatin aku berucap “kehilangan adalah kepedihan, berbahagialah engkau, wahai pecinta, yang tak memiliki apa-apa, maka tidak akan kehilangan apa-apa.&lt;br /&gt;Hati yang gusar,&lt;br /&gt;menatap rasa dingin.&lt;br /&gt;gemerlap cahya bulan; sebatas hiasan&lt;br /&gt;matahari tak cerah lagi&lt;br /&gt;tak ada lagi tiupan angin,&lt;br /&gt;bahkan mimpi-mimpipun akhirnya terkoyak&lt;br /&gt;pekat malam&lt;br /&gt;tak goyahkan jasadku&lt;br /&gt;tuk segera terlelap,eksistensi:&lt;br /&gt;sebatas nyanyian di padang syiria.&lt;br /&gt;Lorong pikiranku&lt;br /&gt;berujung di batas kematian,&lt;br /&gt;sang kekasih;&lt;br /&gt;kehembuskan ayat-ayat cinta dalam mimpimu.&lt;br /&gt;Ketika kau sadar, semuanya telah berlalu.&lt;br /&gt;Tak ada lagi cerita indah&lt;br /&gt;Tersisa hanyalah settitik buih pasir&lt;br /&gt;Ditelapak raga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak pernah dapat mengenal seseorang secara utuh pada pertemuan pertama. Kita butuh waktu untuk mengenal bagian terdalam dari diri seseorang. Pertama kali kita mengenali seseorang tentu berdasar kabar mengenai orang itu, kabar itu memberikan banyak praduga dalam diri kita. Lalu pada saat kita melihatnya secara langsung, sebagian praduga itu berguguran, karena melalui pandangan inderawi sendiri kita menemukan keindahan tubuh yang lebih dari apa yang digambarkan orang lain. Kemudian, dengan mencintai keindahan tubuh yang kita lihat, kita akan mencintai bukan lagi keindahan yang kita lihat itu melainkan juga sesuatu yang tidak kelihatan, yaitu jiwa yang indah. Dari sana kita menuju cinta akan pemikiran dan ide-ide yang indah, lalu kita bergerak menuju cinta sejati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila ziarahku usai disini,&lt;br /&gt;Sebelum berpapasan dengan nafas-Mu&lt;br /&gt;Ijinkan aku melesap di petapaan&lt;br /&gt;tanpa ada tangisan.&lt;br /&gt;Usia bukan milik kita; Glang,&lt;br /&gt;Hanya satu, pintaku; Glang,&lt;br /&gt;Jalarkan sebaris Edellweis&lt;br /&gt;Senyummu dipusaraku. Aku&lt;br /&gt;Pergi ketempat yang damai nan kekal:&lt;br /&gt;Seabadi potretmu dihatiku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keramaian yang selalu menggema seketika terasa diam, hampa, tanpa ada nyanyian manusia yang membicarakan hidupnya. Hanya ada aku yang terdiam dipojok reruntuhan jiwa, jatuh tertimpa kenyataan cinta yang enggan menyapa. Yang dimana semua harapan-harapan pencarian kebenaran akan cinta musnah sudah tanpa ada yang tersisa lagi dan akhirnya mati mengenaskan. Akankah cinta itu mewujud dalam wujudnya yang absolut ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciung Wanara, November 21 th 2007 [05;30 am]&lt;br /&gt;[lelaki Disimpang ke-Gilaan]&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4048571085775261883-7524896135036554642?l=penantangtuhan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penantangtuhan.blogspot.com/feeds/7524896135036554642/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4048571085775261883&amp;postID=7524896135036554642' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4048571085775261883/posts/default/7524896135036554642'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4048571085775261883/posts/default/7524896135036554642'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penantangtuhan.blogspot.com/2008/05/izinkan-aku-kenal-kamu.html' title='Izinkan [aKu Kenal Kamu]'/><author><name>daspuy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02379759474672467858</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_meyFCGexN_I/Sf_HZB9pijI/AAAAAAAAABA/E7vsIZoQj74/S220/BadieullhaqQ(213).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4048571085775261883.post-6565634780902124087</id><published>2008-05-26T22:55:00.000-07:00</published><updated>2008-05-26T23:07:02.194-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Muakology'/><title type='text'>mentalitas UIN hyper bobrok</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;BUKU apa yang kalian kunyah hari ini? Atau tulisan siapa yang hendak dicumbu detik ini; atau teory apa yang merangsak masuk otak kalian saat ini? Ah...tentunya kalian sibuk bergelut dengan rentetan pertanyaaan. tsirt merek apa yang akan kaupakai; lipstik warna apa yang hendak membius para lelaki; atau siapa lagi yang jadi korban libido esok lusa. Carpe Diem sebatas nyanyian transendental, murka sapere aude Kant sebatas gantungan kunci.&lt;br /&gt;“Barang siapa yang tidak bisa geometri dilarang masuk” tertera di balik gerbang masuk Akademia Plato. Pukul 09:00 gembok yang merantai perpustakaan mulai dilepas, perpus konon lumbung khazanah intelektual; seperti di Alexandria; persimpangan embrio filsuf agung abad pertengahan; , city of God-nya Thomas Aquinas, Romeo and Juliet-nya Shakespeare, Hikmah al-Isyraq-nya Suhrawardi, atau Tawasin-nya Al-hallaj, disambung dengan Discourse and Method-nya Rene Descartes, Thus Spoke Zarathustra-nya Nietzsche, hingga Sein Und Zeit-nya Heidegger. Saking berjubelnya warisan itu hingga tak ada satu pun terpampang pada deretan rak buku, begitu sesaknya oleh tumpukan fragmen dakwah kapitalisme rongsokan, komunikasi emansipatoris kerdil, theologi insklusive penjila[tain].&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sedang apa Mahasiswa? apakah kalian merasa resah dan muak menatap kuantitas dan kualitas diperpustakaan kita? Pastinya kalian bisu atau tuli, karena perpus hanya sekedar media penyaluran birahi; sebatas tumbal tugas dosen; bahkan mencari korban libido selanjutnya; atau untuk cari tongkrongan baru. Pernahkah kalian mendengar Alegori Gua Socrates, Logica Aristoteles, Metafisika Sir.M.Iqbal, teori dekontruksi Derrida, atau Tuhan telah Mati Nietzsche. Pasti kalian tak mengenalinya! telinga kalian tersumbat kitab suci MP4, hobi mentransportasikan birahi dalam madat al-wujud, dan menstimulus otak dengan nyanyian oral. Kalian lebih suka berdialektika dengan sinetron, men[sintesis]kan pertandingan Arsenal versus Persib, berkelana menggagas epistemologi kadut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Apa yang didapat selama berwisata di ruang perpus? sekedar mencatat romantisme holocoust; hanya sekedar asketis bacot, menghapal teori relativisme absurd, atau memahami ontologi simbol sexualitas, terlebih hanyut dalam tragedi ekshibisionis bercampur seonggok tinja di otak kalian. “Pantes loba mahasiswa nuso pinter” padahal isi nya hanya tabula rasa. Retorika kalian memban[tai] sejarah yang dibanggakan, galilah liang lahat sebelum Zarathustra bangkit dari kubur dan memenggal kepala kalian masing-masing. Bersiaplah!? Atau kalian lebih asik masuk neraka penindasan birokrat tak berprikemanu[sia]an, atau kalian sendiri yang enggan mengaku sebagai manusia? ah..begitu pendiam kalian. Sampai-sampai kalianpun ogah merubah rutinitas jadi pengemis nilai. Mau jadi apa ketika waktu dihabiskan hanya ngabudah dihadapan jelangkung; otak koclak “sing era kanu jadi kolot, lain kuliahteh dibiayaan kukolot?” lain kitu!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Deretan buku nampak berjajar, dari yang berjudul Filsafat, Ekonomi, Syariah, Ilmu Hadits, Fiqh, Dan teory dialektika huntu, teory komunikasi plus-plus, hingga cara cepat menjadi PNS, jalan pintas menjadi Dosen, konsep korupsi secara syariah, dan kiat-kiat melanggengkan tahta kerajaan meski tanpa kualifikasi dan otak kosong “pantas banyak dosen/asdos yang kualitasnya dibawah standar” kamaqolaa Darwinisne “barang siapa yang kantongnya tebal atau punya akses politik Ia bisa naik takhta sekalipun otaknya koclak. Dan barang siapa yang tidak punya duit dan tidak ada akses politik, meskipun otak kaya Einstain jangan mimpi”. Bayangkan, miniatur Universitas yang tenggelam dalam manipulasi haus kekuasaan, apa yang akan terjadi?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Mahasiswa dijadikan kerdil, selalu membanggakan ketololannya. Ulah siapa? A[pakah adannya konspirasi para suhu pemegang saham, mereka ingin membumihanguskan setiap militansi. Dan apakah karena mahasiswanya enggan keluar dari lingkaran setan, terlalu nyaman dengan sihir para petinggi, atau mahasiswa terbius oleh romantisme nihilistik gaya Faraoh, atau nyambat Dyonisius dibalik tragedinya, bisa jadi terlena oleh kisah skenario telenovela jurig.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Tak lupa, pagi buat kasir penjaga museum. Apakah bapak-ibu miris melihat manuskrip banyak yang raib; jadi menu utama tikus; lapuk dimakan zaman alias bulukan; jauh dari kata layak, layaknya manuskrip-mu berasal dari abad pra-barang bekas. Apakah sudah tidak ada lagi common sense yang punya mata untuk melihat, dan intuitif dalam meratapi pemandangan yang mengerikan ini? Lantas apa yang jadi kesibukan bapak-ibu? Pastinya para bapak-ibu hanyut dalam rutinitas ngerumpi; asik ber-ekstase ritual asketis main game; berdzikir a-la info[tai]ment gosipisme. Yang pasti “makan ga makan asal ngumpul”.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kiamat sudah hampir dekat neng, akang, father dan mother!? Konon tanda-tandanya sudah nampak; lenyapnya kitab suci pegangan para pupuhu adat dan Filsuf; pemimpin yang nyeleweng; mahasiswa sudah muak menyentuh buku; ketika atas nama kebenaran kau agungkan ke-egoan komunalisme dan menganggap sesat pada jenis-mu. Apologi huntu selalu berdendang pada sebaris kausa peng-ti[ada] Creati[ive] ex Nihillo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Nyantai aja lagi!?. Tak ada yang mengusik! Biarkanlah kami yang membangunkan dari ketidaksadaran akan realitas yang hyper kronis stadium [no limits], kalian terlalu asik beronani gaya rektorat. Sekedar gumam yang kami baca dikumpulan ensiklopedi apatis museum kalian. Terima kasih atas manuskripnya yang langka tidak kami dapatkan di perpustakaan manapun, apakah kalian masih saja tertidur atas kebobrokan institusi yang kalian kultuskan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Buat para mahasiswa yang masih duduk santai dipembaringan, atau sedang ciuman dengan selingkuhannya, bahkan sedang masturbasi dengan play station, atau yang hobi wiridan SMS. “Requeim Aeternam Deo” melesap dalam banalitas hidup. Pantha Rei hujat Heraclitos.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Ruang senyap.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Desember, 18th’2007[adzan Subuh&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4048571085775261883-6565634780902124087?l=penantangtuhan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penantangtuhan.blogspot.com/feeds/6565634780902124087/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4048571085775261883&amp;postID=6565634780902124087' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4048571085775261883/posts/default/6565634780902124087'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4048571085775261883/posts/default/6565634780902124087'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penantangtuhan.blogspot.com/2008/05/mentalitas-uin-hyper-bobrok.html' title='mentalitas UIN hyper bobrok'/><author><name>daspuy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02379759474672467858</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_meyFCGexN_I/Sf_HZB9pijI/AAAAAAAAABA/E7vsIZoQj74/S220/BadieullhaqQ(213).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4048571085775261883.post-6300558159111303758</id><published>2007-10-08T11:08:00.000-07:00</published><updated>2007-10-08T11:10:39.325-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Sekulerisme; Agama Publik dan Demokrasi Dalam Wacana Rekonstruksi Religiusitas</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Oleh Saeful Anwar &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat modern sebenarnya sangat sekuler, bahkan orang mengingkarinya sekalipun tetap sekuker. Ironisnys setelah kita menggali tradisi mistikdari rus utama kebudayaan dan menyatakannya tidak relevan dengan zaman ini, kita semua merasa hampa tnpa kehadiranhal-hal mstik&lt;br /&gt;(David Myburi-Lewis, Millenium&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;teriakanlah kebenaran, asal kau katakana dengan nada miring&lt;br /&gt;(Emile Dickinson)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agama, Apakah Itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai latar belakang untuk mencoba membahas judul diatas, dalam kesempatan ini penulis mengutip dari H.M Rasyidi yang mengatakan bahwa kita perlu memikirkan tentang agama . Agama dalam bahasa Sangsakerta dapat diartikan sebagai berikut; a diartikan tidak, sedangkan gama dapat diartikan kacau. Dengan kata lain dengan adanya agama diharapkan tidak ada kekacauan didunia ini. Setidaknya satu perkataan yang sering dikatakan keliru, yaitu perkatan agama diharapkan tidak ada kekacauan didunia ini. Seorang ahli agama yang bernama William Temple , pernah berkata “…agama adalah menuntu tpengetahuan untuk beribadat”. Dan lebih lanjut ia mengatakan pokok dari agama bukan pengetahuan tentang Tuhan tapi perhubungan antara seorang manusia dengan Tuhan. Istilah agama ternyata sebuah kata yang terbentuk pada periode pertengahan dan modern, pertama, ketika gereja keristen memaksakan wewenangnya untuk membedakan anara paktik Keristenisasi sebagai agama “sejati” dengan paganisme (penyembahan berhala) sebagai agama “palsu”. Kedua, ketika para pemikir, ilmuan, dan ahli Filsafat politik modern awal hendak membedakan antara hal religiusdari hal yang sekuler&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Pada permulaannya agama sebenarnya bertujuan menjadi suatu instrument untuk perdamaian dunia. Ia menjadi symbol yang selalu diimpikam semua orang, ia menjadi tumpuan akhir dari berbagai kekacauan dan kerusakan dalam dunia. Namun ketika agama jatuh pada tataran eksoteris (ekspersi manusia) ia (agama) seakan menjadi monster yang amat menakutkan. Persoalannya terletak pada tingkat mengapresiasikan nilai ketuhanan dalam kehidupan sosial kemasyarakatan yang telah memiliki sekat-sekat ideologis cultural dan kepentingan politik yang berbeda beda sehingga sering terjadi benturan antara masing-masing komunitas social yang merasa mereka adalah pewaris kebenaran dari Tuhan, sehingga mereka mengklaim bahwa diluar dari golongan mereka adalah kafir. Fenomena seperti itu dapat kita rasakan pada peradaban sekarang ini dimana kelompok atau personal yang melakukan ritual yang berbeda dengan golongan lain dianggap sesat dan kafir, dan menurut sebagian orang halal untuk dibunuh seperti dalam kasusus pemboman di Bali yang mengatasnamakan agama Islam dan seakan akan pembenaran dari tindakannya yang dilkukan seakan-akan adalah kepentingan Tuhan . Pada dasarnya apayang dilakukan adalah hal yang bodoh kerena islam tidak mengajarkan kekerasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paradigma keber-Agamaan seperti itu patut dikatakan keliru karena agama diturunkan dari Tuhan untuk kepentingan manusia, bukan dari Tuhan untuk kepentingan Tuhan, dan bukan pula dari manusia untuk Tuhan. Melainkn dalam hal ini Tuhan berposisi sebagai sumber spirit moral. Dari Nya manusia berasal, kepadanya pula manusia akan kembali untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya selama hidup didunia. Agama pada dasarnya bersifat kemanusiaan tetapi bukan berarti kemanusiaan yang berdiri sendiri melainkan kemanusiaan yang memancarkan dari wujud Tuhan. oleh sebab itu, sebagaimana nilai kemanusiaan tidak mungkin bertentangan dengan nilai keagamaan maka nilai keagamaan mustahil menentang nilai kemanusiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada intinya agama yang benar secara universal sesungguhnya ia hadir atau diturunkan adalah untuk memperjuangkan emansipasi harkat manusia. Bukan menghancurkan atau menghilangkan existence manusia. Ketika pesan universal agama itu turun keruang budaya, ia akan mengalami proses partikularistik yang plural.realitas ini kemudian sangat membutuhkan penyikapan yang arif; diantaranya, pertama menghargai keragaman yang partikularistik-pluralistik sebagai keniscayaan dalam kehidupan. Kedua, pesan universalistic agama yang mesti memilii hubungsn benang merah dengan realitas historis yang partikularistik orisinalitasnya, maka praktek agama pada tingkat historisnya akan kehilangan makna dan fungsinya bagi kemanusiaan, bahkan akan terjadi manipulasi agama, yaitu agama dipraktekan hanya secara simbolik-formalistik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Identitas Agama Kekinian&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepintas thesis yang dilontarkan Samuel P. Hutinhton tampak benar, karena dalam tataran realitasnya, agama dijadikan tameng dalam berbagai peperangan dan konflik dalam suatu komunitas masyarakat. Karena merasa agamanyalah yang paling benar dan diluar sari kelompoknya dianggap sesat bahkan mengaggap kafir, meskipun satu keyakinan secara subtansi yang sama, tak jarang pemahaman fanatic buta (ta’asub) ini menjadi awal konflik atas nama agama. Seperti peperangan yang terjadi di Andalusia (Spanyol) yang lebih dikenal dengan perang salib (antara Kristen dengan Islam), juga yang terjadi di Timur Tengah (antara Yahudi dengan Islam). Bahkan yang lebih mencengangkan lagi tentang peperangan antar kelompok yang satu agama, seperti penyerangan masyarakat Islam terhadap Jemaat Ahmadiyah di Bogor, juga konflik yang berkepanjangan di Poso, penutupan dan pembakaran gereja-gereja, pengharaman terhadap kelompok yang berhaluan Pluralisme, Liberalisme, dan Sekulerisme yang diprakarsai oleh MUI, juga aliran-aliran yang lainnya, yang mengatasnamakan kebenaran dan tindakannya dilegalkan oleh agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agama dalam konteks kekinian telah beralih fungsi, dari fungsi kedamaian universal kearah kedamaian lokalitas-sekterian, menjadi bukti bahwa agamapun turut menyumbangkan dalam segenap pemicu kekacauan. Namun kita tentunya tidak biasa menyalahkan agama, sebagai pemicu konflik, karena konflik yang terjadi pada dasarnya terjadi atas pemahaman person terhadap agama itu sendiri. Agama dipahami secara sempit dan cendrung letterlijk sehingga melahirkan pemahaman yang sempitpula, agama sering dipahami sebagai untouchable yang melahirkan fundamentalis religi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak heran kemudian banyak muncul kecaman terhadap existensi agama-agama dalam paruh abad ini. Seperti yang dikatakan Wilson dengan rasa pesimisnya ia mengungkapkandilema agama-agama, bahwasanya;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Didalam Al-kitab (Bible) disebutkan bahwa uang merupakan sumber segala kejahatan. Atau lebih benar lagi kalau dikatakan bahwa cinta Tuhan merupakan sumber segala kejahatan. Agama merupakan tragedy umat manusia. Agama mengajak kepada hal-hal yang sangat luhur, sangat murni dan sangat tinggi dalam jiwa manusia, akan tetapi hamier tidak ada satu agamapun yang tidak ikut memberikan andil dan pemicu atas berbagai peperangan, tirani dan penindasan atas kebenaran. Marx pernah menggambarkanagama sebagai candu masyarakat, bahkan agama lebih berbahaya dari candu agama tidak membuat orang tertidur, agam mendorong orang untuk menganoaya sesamanya, untuk mengagungkan perasaan dan pendapat mereka sendiri atas peasaan dan pendapat orang lain, dalam rangka mengklaim kebenaran sebagai milik mereka sendiri. Atas perasaan dan pendapat orang lain, dalam rangka mengklaim kebenaran sebagai milik mereka sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada konteks ini tejadi klaim kebenaran (truth claim) secara eksklusif, dimana kelompok yang memiliki keabsahan karakteristik beragama seperti ini, keabsahan teologinya ada pada nya, dan keselamatan (salvation claim) hanya ada dan menjadi milik mereka pula. Memperhatikan tanggapan pesimisme Wilson terhadap keberagamaan seperti itu sesungguhnya merupakan kritik keras dan peringatan terhadap peranan semua agama. Bahwasanya dalam setiap agama pasti ada penganut yang memiliki potensi negatif dan destruktif yang membahayakan, yang mengancam pada tingkat kekacauan (chaos). Sungguh sangat ironis ketika agama sudah hilang semangat kemanusiaannya dalam suatu peradaban maka ia akan tampil sebagai instrumen yang dapat menhancurkan peradaban maka sudah pasti ia akan tampil sebagai instrumen yang menghancurkan manusia dan peradabannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika agama saling berperang dan dengan mengatasnamakan Tuhannya, yang dianggap sebagai perang suci dan dengan anggapan dia mati dalam syahid dan akan masuk surga. Keyakinan ini muncul karena adanya truth and salvation claim dari masing-masing agama. Secara awam masing-masing kelompok agama yan konflik diatas panggilan iman untuk membela kebenaran, seakan menjadi benturan “antara kebenaran dengan kebenaran” padahal secara subtansial jika perang antar penganut agama-agama dipikirkan secara arif dan rasional perang itu adalah “perang menodai kesucian agama”. Dengan kata lain dapat disebut sebagai kepalsuan melawan kepalsuan atau kezalimaan melawan kezaliman. Karena agama kehilangan fungsi dan berubah peran yaitu hak kemanusiaan yang harus dijunjung dan diemansifasikan-selaku cita illahiyang tertinggi, oleh karena itu peran profetis itu berubah menjadi peran anarkis dan dehumanisasi.kita mendapatkan orisinalitas dan pesan universal agama dinodai dan dimanipilasikan untuk kepentingan pribadi dan kelompok tak pelak lagi kemudian kehidupan keberagamaan disatu sisi memberikan harapan dan peganggan hidup bagi orang yang memeluknya, namun disisi lain kehidupan keberagamaan pulalah yang yang menjadi sumber konflik dan malapetaka baik itu untuk manusia maupun alam semesta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Agama dan Konflik Sosial di Indonesia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konflik yang terjadi atas nama agama rupanya tidak hanya terjadi di dunia barat maupun Timur, namun kini telah merambah ke dalam negeri Tanah air Indonesia. Kalaulah kita mencermati perkembangan dan dialektika hubungan antar agama di Indonesia, seakan kita sampai pada eksterm bahwa agama tidak mampu melahirkan masyarakat yang harmonis, apalagi kreatif, dan tidak bisa menyentuh pada sisi esensinya sebagai agama yang membawa kebaikan (fitrah). Hal ini dapat ddibuktikan dengan semakin meluasnya konflik-konflik antar intern dan ekstern agama dalam masyarakat, seperti yang terjadi dewasa ini, manusia dengan mudahnya mengahus, memprovokasi bahkan dengan tanpa berdosanya menghilangkan nyawa orang lain, dengan dalih mengatasnaakan agama. Berbagai usaha dan terapi telah diujicbakan namun hasilnya belum memuaskan,kalau kita hendak mengembalikan manusia kepada fitrahnya yang abadi (perennial), karena itu seruan untuk menerima agama yang benar harus dikaitkan dengan fitrah manusia sebagai makhluk social yag tidak bisa lepas dari saling ketergantungan dengan individu maupun kelompok lain.sebagaimana kitab suci telah menulisnya dalam ayat;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maka hadapkanlah wajahmu untuk agama ini sesuai dengan kecenderungan alami menurut fitrah Allah yang dia telah ciptakan manusia diatasnya. Itulah agama yang tegak lurus, namun sebagian manusia tidak mengetahui”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajah agama pada akhirnya bergerak menurun tajam dari “perekat bangsa” (obligation in supra solidum) kearah pemecah bangsa (obiligo in contravention solidium). Kegamaan pada awal kemerdekaan mejadi sentrum (lembaga) berubah menjadi disentrum (pisau). Agama yang berupa kumpulan doktrin yang mendamaikan berubah menjadi ajakan kekerasan. Agama yang berupa kumpulan teks yang membebaskan yang metafosis menjadi gumpalan yang rigid. Agama terbukti menjadi salah satu pemicu yang dipakai dalam garakan-gerakan yang mengatasnamakan kebenaran yang berlindung didalam agama, juga yang mengkalim gerakan-gerakan separatisme-disintegrasi bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa model dan alasan mengapa agama terkesan gagal daram mengatasi (mengurangi) konflik sehingga terus menerus meluas. Pertama, agama di Indonesia sering menampilkan dirinya sebagai sosok “penguasa yang sakti” yang tak terbatas. Kedua, dalam derajat tertentu, agama menunggangi konflik-konflik laten dalam mayarakat. Konflik yang awalnya yang merupaan konflik personal, antar warga, antar suku, antar daerah,dan antar golongan, da meledak sesekali karena disusupi oleh agama. Ketiga, diberbagai lapisan masyayakat agama menjadi opium padt yang menghilangka rasionalitas, karena ia merupakan sesuatu yang efektif untuk menumbangkan rezim tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada empat varian dalam agama, yaitu siste keyakinan, organisai, identitas kelompok, dan pengaturan kemasyarakatan. Pada varian system keyakinan yang berlandaskan pada skiptural dan subtansial-agama di Indomesia menampilkan dirinya sebagai penguasa tunggal yang skipturis. Pada varian organisasi keagamaan yang terbagi menjadi odel organic (berepistemologi kearifan aktif) dan model cultural (berepistemologi pasif) agama di Indonesia “dalam derajat tertentu bermatamorfosis dan besimbiosis dengan konflik-konflik laten antar masyarakat”. Pada varian pengaturan kemasyarakatan yang tediri dari theocracy (masyarakat yang religius), seculer( masyarakat yang duniawi), dan seculer theistic (masyarakat pancasila, agama di Indonesia dalam waktu-waktu ttertentu berwajah dan berkekuatan “antibiotic” bagai panacea atas problem modernitas yang tak ramah. Dengan berbagai fenomena yang muncul kepermukaan sebagaimana yang dipaparkan diatas, yang dapat digarisbawahi bahwa agama di Indonesis hidup seperti dalan ungkapan “post coitum omneanimal tristist est (setelah suatu momen yang baik dan menegangkan, kita sering kehilangan sesuatu yang lebih besar), oleh karena itu mengembalikan peran properties agama-agama adalah suatu kemestian, dimana dalam suatu agamayng benar, ia harus belajar pentingnya menghargai harmoni kemanusiaan universal dan kosmos seagai tujuan penciptaan kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Civil Religion dan Rekontruksi Sosial-Religi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, karena itu langkah yang aternatif dari fenomena konflik atas nama wilayah agama adalah dengan mengedepankan kosep civil religion , ditinjau dari segi ennografis tidak ada satu kelompok manusiapun diseluruh duniayang tidak mempunyai kepercayaan. Agama menjadi lembaga, norma bahkan menjadi legenda tertua dalam sejarahdunia yang melibatkan dari jauh kedalam persoalan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada sejarah berikutnya agama berhasil membawa perubahan social. Ia mengajarkan transformasi loyalitas sektoral menuju transpormasi identitas individual yang berakhir pada transformasi nilai, dari obligation in solidum kearah obligatiain supra slidum (dari gotong royong segmentis kearah gotong royong segmentisyang diikat oleh nlai-nilai).dengan beragana ,seseorang membangun ketulusan kerja seagama, kemudian seiman dan trans-iman. Agama kenudian bertugas melakukan penyadaran secara menyeluruh (coscienzitation) terhadap proses dan pelestarian menjadi diri manusia merdeka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agama yang mampu berbuat seperti logika adaah agama sivil (civil religion). Sebuah agama yang menyadari bahwa tanpilan diwilayah publik hanyaah sebatas nilai dan semangatnya, bukan adanya bentuk-bentuk formal, lebih jauh lagi agama civil menghendak adanya kemerdekaan manusia bukan hanya sekedar monolog top-down melainkan pekerjaan yang menyebabkan naiknya derajat kehormatan bagi yang menjalankan. Adanya kesadaran pluralise membawa setiap manusia pada penerimaan akan terjadinya konflik, karena setiap orang miliki kebutuhan dan cara pandang yang berbeda sehingga dapat mengakibatkan ketegangan serta selisih pendapat dalam berbagai dimensi aktivitas kehidupan. Bahkan Frenklin Dukes mengatakan, pada masyarakat demkratis, konflik adalah dasar dari perubaha sosisl (social change) . Demikian pula halnya dengan Lewis A Coser yang lebih tegas mengatakan bahwa konflik menunjukan terjadinya perubahan dinamika pada setiap masyarakat (dynamic change) . Oleh kaena itu yang dilakukan adalah memenaj kekerasan, justru konflik dapat dimenej menjadi potensi untuk saling membantu, bekerjaama, dan berkompetisi dalam kehidupan.&lt;br /&gt;Untuk membangun kehidupan yang anti kekerasan dan cinta damai, diperlukan beberapa hal; pertama pemahaman dan sikap keberagamaanyang menghargai realitas pluralisme, kedua, perlu perlu ada transformasi pemahaman agama , dari pemahaman yang individualistic-ritualistik dan terlalu elistis-eksatologis kepada pemahaman integtalitiv-dan komprehensif, yaitu aspek kesadaran eksstensi ya illahi yang akan memberi kesadaran untuk menghargai da memberdayakan manusia.Kekerasan sosisl yang ada di Indonesia dewasa ini menggambarkan agama-agama telah kerim\ng dan telah hilang seangat profetiknya. Oleh karena itu upaya untuk membangun kesadaran prfetik adalah agenda untuk mejadkan agama secara positif dalam rangka menghargai sesame. Ketiga, perlu adanya kritik secara objektif terhadap teks-teks suci agama-agama, yang secara harfiah kelihatannya menyatakan sikap kerasterhadap kelompok lain (ada dalam sebuah agama), jika kitab suci diterjemahkan secara harfiah maka akan melahirkan sikap benci terhadp agama lain, dan akan dijadikan alat legitimasi untuk melakukan kekerasan dan kejahatan kepada orang lain. Keempat, dengan adanya hubungan agama-agama pada masa lalu yang berdarah-darah, khususnya dengan realitas peperangan antara pemeluk agama, dan suku yang berbeda di Indonesia dewasa ini, apabila tidak dikritisi secara objektif, maka hal ini dapat membawa tarauma danrasa kebencian terhadap sesama manusia secara unuversal. Kelima, media diaolog merupakan salah satu cara untuk membangun kesadaran anti kekerasan, karena dialog merupakan media untuk membuka ruang-ruang untuk saling memahami pluralitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;System sosial merupakan elemen structural yang sangat penting dalam kehidupan manusia selaku makhluk sosisl, yang oleh mazhab fungsional sering diibaratkan sebagai organisme hidup yang satu sama lain saling terkait dan saling membutuhkan agar mampu berthan dan saling melangsungkan kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pandangan Talcott Persons bahwa suatu system social dalam masyarakat agar tetap berfungsi dan mampu melangsungkan kehidupannya memiliki empat persyaratan fungsional. Persyaratan pertama, ialah adaptasi (adaptation) yaitu kemampuan setiap elemen social dalam masyarakat untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya, sehingga mampu bertahan dalam dinamika kehidupan. Kedua, mempunyai goal attanment, yaitu kemampuan untuk memobilisasisumberdaya guna mencapai tujuan bersama-kehidupan yang harmonis. Ketiga, integrasi (integration), yaitukemampuan setiap elemen atau system untuk menyatukan diri, sehingga terpelihara solidaritas social da keutuhan. Dan yang keempat, pemeliharaan pola (pattern manintenance) yaitu kemampuan setiap elemen untuk mempertahankandirinya dalam keseimbangan terus menerus yang membentuk orientasi nilai dalam kehidupan bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Demokrasi; Teori Pembebasan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhammad Syahrur pernah mengatakan, bahwa inti dasar kehidupan adalah kebebasan tang tidak bisa di tawar-tawar, setiap manusia mempunyai hak untuk bebas tanpa ada intervensi dari luar, setiap orang adalah manusia yang bebas dalam menentukan pilihan-ilihan hidupnya. Tidak ada satu otoritaspun yang boleh menghalangi realisasi dari kebebasan yang dimiliki seseorang, system kehidupan individu dan social harus dibangun untuk memelihr kebebasan setiap orang, menghindari restriksi (tekanan) atas manusia. Karena selama ini masalah eksploitasi manusia oleh manusia menjadi tema yang di usung oleh setiap agama, ideology dan pemikiran dengan klaim bahwa mereka membawa misi keselamatan bagi manusis menuju manusia yang menuju kebbasan yang menjadi fitrah manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebebasan tidak berasal dari Tuhan, karena ia telah memberikankebebasan pada setiap hamba-Nya dengan rasa kasih sayang yang tidak terbatas, kebebasan seseorang berurusan denan tata laku dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam ruang privat maupun dalam ruang social, terkait dengan pola-pola relasi dan interaksi social dalam ruang sejarah. Dengan dasar kebebasan itu manusia memilikitanggungjawab moral, memiliki tanggung jawab atas seluruh perilakunya yang berdasarkan atas kebebasanyang dimilikinya. Dan tanggung jawab seseorang adalah mewujdkan system kehidupan yang berkeadilan, berkesetaraan, dan memelihara anugerah kebebasan ersebut supaya idak dicedrai oleh manusia itu sendiri.&lt;br /&gt;Masing-masing individu dituntut untuk menampilkan diri sebagai makhluk yang bermoral yang bertanggung jawab, yang akan memikul segala amal perbuatannya tanpa kemungkinan mendelegasikannya kepada orang lain. Karena semua umat manusia dilahirkan bebas dan sama dalam hak dan martabat mereka yang dikaruniai akal budi dan hati nurani, dan harus bersikap terhadap satu sama lain dalam semangat persaudaraan . Deklarasi Hak Assi Manusia (Declaration of Human Right) merupakan bentuk jaminan kebebasan yang masih abstrak. Dokumen yang disepakati ini harus direalitaskan kekinian dengan menafsirkannya , sehingga menjadi dokumen yang kongkrit dalam sejarah&lt;br /&gt;Seorang peribadi adalah sama dengan nilai kemanusiaan universal, sebagaimana nilai kemanusiaan universal adalah sama dengan nlainya dengan nilai kosmis seluruh alam semesta. Maka agama mengajarkan;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barang siapa membunuh seseorang tanpa dosa pembunuhan atau perusakan dibumi maka bagaikan ia membunuh seluruh umat manusia, dan barang siapa yang menolong hidupnya maka bagaikan ia menolong hidup seluruh umat manusia”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi harkat dan martabat seseorang atau pribdi manusia merupakan sebuah cermin, atau represenasi seluruh harkat martabat manisia. Maka penghargaan dan penghormatan kepada harkat masing-masing individu adalah amal kebajikan yang memuat nilai-nilai kemanusiaan yang bersifat universal.&lt;br /&gt;Implikasi dari adanya kebebasan dalam kearifan hidup, terlahirnya sebuah system tentang pengaturan masyarakat dalam tataran negara, yang di Indonesia lebih dikenal dengan istilah Demokrasi Indonesia atau lebih umum lagi dikenal dengan demokrasi Pancasila, secara teoritis, dorongan untuk mengembangkan demokrasi untuk menurut kondisi khusus sustu tempat adalah wajar sekali, sekalipun dasar yang paling prinsifil dai demokrasi itu universal—berlaku untuk semua tempat danwaktu, namun dalam rincian dan pelaksanaannya, juga dalam intitusinya yang menyangkut masalah structural dan prosedural tertentu, terdapat variasi yang cukup besar antara berbagai negara demokrasi.&lt;br /&gt;System demokrasi tidak terlepas dari berbagaii masalah, seringkali dikemukakan bahwa system demokrasi adalah system politik yang buruk seperti apa yang pernah diungkapkan oleh Filsuf Yunani yaitu Plato dalam bukunya (Republik Plato) yang mengatakan bahwa system pemerintahan yang menganut system demokrasi adalah yang terjelek diantara yang lainnya. Kendati begitu ia merupakan satu-satunya (system yang dipercaya mampu mengoreksi dirinya sendiri). Karena itu orang lebih memilih demokrasi dengan harapan adanya sesuatu perubahan dan perbaikan. Manusia abad 21 tidak memiliki pilihan lain selain demokrasi sebagai pilihan tunggal untuk menembus kebuntuan teoritik dan praksis social umat manusia, dapat dilakukan terus menerus, dan ketidak mistahilan dapat mencapai kesempurnaan, jika kita mengingat bahwa didunia ini tidak ada sesuatu yang sempurna karena semuannya bersifat kerelatifan dan terus menerus berubah tidak adannya ketetapan mutlak, sesuai dengan dalil umum “segala sesuatu berubah (yakni mengalami transformasi), kecuali “esensi Tuhan” orang Yunani mengatakan, “panta rei”&lt;br /&gt;Demokrasi pada dasarnya menghendaki adanya sebuah ideology yang terbuka atau ideology yang berujung terbuka (open-ended ideology), yaitu ideology yang tidak dirumuskan penjabaran rincinya “sekali dan untuk selamanya (once and for all). Tetapi ada juga ideology yang tertutup seperti komunisme. Ideology yang tertutup, yang dirumuskan penjabaran rincinya sekali untuk selamanya selalu cendrung ketinggalan jaman (obsolete). (dalam hal komunisme, peran pemimpin sangat dominan dalam penjabaran itu, atau ada hanya satu badan atau lembaga yang berhak untuk menjabarnya)&lt;br /&gt;Dalam rangka proses menuju keberbagian dan persetujuan bersama itu maka harus dilaksanakan dengan musyawarah untuk arti yang seluas-luasnya.karena demokrasi mengedepankan kepentiangan individu diatas kepentingan rakyat, dengan istilah lain Vini, Vidi, Vici (dari rakyat, oleh rakyatdan untuk rakyat) Islam mempunyai dasar dalam musyawarah, yang disebut partisipasi egaliter.14 khususnya bagaimana termuat dalam kitab suci dan Sunnah Nabi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Manusia diikat oleh perjanjian primordial dengan Tuhan, yaitu bahwa manusia, sejak dalam kehidupannya dalam alam ruhani, berjanji untuk mengakui Tuhan Yang Maha Esa sebagai pusat orientasi hidupnya. .&lt;br /&gt;2. Hasilnya ialah kelahiran manusia dalam kesucian asal (fitrah), dan diasumsikan ia akan tumbuh dalam kesucian itu jika seandainyatidak ada pengaruh lingkungan .&lt;br /&gt;3. Kesucian asal itu bersemayam dalam hati nurani (nurani artinya bersifat cahaya terang), yang mendorongnya untuk senantiasa mencari, berpihak dan berbuat yang baik dan benar.&lt;br /&gt;4. Tetapi karena menusia itu diciptakan sebagai makhluk yang lemah (antara lain, berpandangan pendek, cenderung ttertarik pada hal-hal yang bersifat segera), maka etiap peribadinya mempunyai potensi untuk salah, karena tergada oleh hal-hal menarik dalam jangka pendek.&lt;br /&gt;5. Maka, untuk hidupnya, manusia dibekali dengan akal pikiran, kemudian agama , dan terbebani kewajiban terus menerus mencaridan memilih jalan yang lurus, benar dan baik&lt;br /&gt;6. Jadi manusia adalah makhluk etis dan moral, dalam arti bahwa perbuatan baik dan buruknya harus dapat dipertanggungjawabkan, baik didunia diantara sesama manusia, maupun di akhirat dihadapan Tuhan Yang Maha Esa.&lt;br /&gt;7. Berbeda dengan pertanggungjawaban di dunia yang nisbi sehingga tidak ada kemungkinan manusia menghindarinya, pertanggungjawaban di akhirat adalah mutlak, dan sama sekali tidak mungkin dihindari.&lt;br /&gt;8. Pertnggungjawaban mutlak kepada Tuhan di akhirat itubersifat pribadi sama sekali, sehingga tidak ada pembelaan, hubungan solidaritas dan perkawanan, sekalipun antara sesama teman, karib kerabat, anak, dan ibu-bapak.&lt;br /&gt;9. Semuannya itu mengasumsikan bahwa setiap pribadi manusia, dalam hidupnya diduniaini, memiliki hak dasar dalam memilih dan menentukan sendiri perilaku moral dan etisnya (tanpa hak memilih itu tidak mungkin dituntut pertanggungjawaban moral dan etisnya).&lt;br /&gt;10. Karena hakikat dasr yang mulia itu, manusia dikatakan sebagai puncak makhluk Allah, yang diciptakan olehnya dalam sebaik-baik ciptaannya, yang menuntut asalnya berharkatdan martabat yang setinggi-tingginya.&lt;br /&gt;11. Karenaitu Allah-pun memuliakan anak-cucu Adam, dan menaggungnya didaratan maupun dilutan.&lt;br /&gt;12. Setiap peribadi manusia adalah berharga, seharga kemanusiaan sejagad. Maka barang siapa yang merugikanseorang pribadi, seperti membunuhnya, tanpa alas an yang sah, maka ia bagaikan merugikan seluruh umat manusia. Dan barang siapa yang melakukan kebaikan, maka ia telahberbuat baik terhadap seluiruh umat manusia.&lt;br /&gt;13. Setiap pribadi harus berbuat baik terhadap sesamanyadenngan memenuhi diri pribadi terhadap pribadi lain, dan menghormarmati hak-hak orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musyawarah ini dijalankan dengan adanya asumsi kebebasan pada masing-masing personal manusia. Dalam rangka memberi kerangka pada pelaksanaan kebebebasan-kebebasan asasi itulah pengalaman positif Barat tentang demokrasi prosedural dalam konteks ke Indonesiaan sangat mendukung karena Indonesia masyarakatnya yang plural ini dapat dijadikan sebagai pertimbangan. Karena musyawaah bukan saja menyangkut prosedur, tetapi didalam dirinya terkandung kerangka pembenaran dengan makna dan tujuan hidup manusia secara universal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agama adalah cara agar manusia bisa memahami dunia. Tetapi dunia yang kita diami sekarang ini adalah dunia yang makin sulit untuk dipahami, demikian ungkapan Josep Concard, memahami kehidupan agama dewasa ini. Dalam kehidupan modern kelangsunan hidup beragama tak ubah seperti bola sepak yang ditendang kesana kemari oleh pemain (penganutnya) yang didasari atas dasar ambisi.&lt;br /&gt;Kehidupan agama pun kini demikian adanya, agama tidak lagi dijadikan sebagai panutan dan pedoman untuk hidup, malah dijadikan sebagai tameng bagi kehidupan. Agama sering sekali dipakai dalil untuk setiap tindak kekerasan dan melegalkan konflik, karena mereka merasa tindakannya di amini oleh Tuhan, sekalipun harus menghilangkan nyawa orang lain. Bukankah perang salib di Andalusia itu di dasarkan atas pertikaian antar agama?, dimana penyakit truth claim saat ini telah menjadi akut pada setiap pemeluknya. Bukankah kerusuhan yang terjadi di Indonesia, tepatnya terjadi dibeberapa kota baik dalam perbedaan agama, atau se-agama atau perbedaan sukudan ras. Keseluruhan konflik tak bisa terlepas dari peran serta agama yang memicunya terjadinya konflik.&lt;br /&gt;Pertanyaan pertanyaan diatas bukanlah untuk diperdebatkan, melainkan untuk direnungi bagi kita semua; apakah agama yang salah atau jangan-jangan pemahaman kita selama ini terhadap agama masih minim, skipturis dan cenderung fanatik buta, sehingga mengabaikan pesan yang terkandung dalam universal agama. Dan pertanyaan yang harus dijawab adalah bagaimana agar kehidupan beragama kembali bias harmonis. Diturunkannya agama sebenarnya demi kedamaian universal, agama yang memiliki dua dimensi yaitu esoteris dan eksoteris.&lt;br /&gt;Maka kini saatnya bagi masyarakat dan bangsa Indonesia mencoba menata ulang system social dengan memasukan dimensi rasionalkedalam proses demokrasi social lebih sekedar mencekoki emosi kolektif yang bernafas pendek dengan berbagai symbol, ritual dankeguyuban yang semata-mata hanya nampak dipermukaan.&lt;br /&gt;“Sesungguhnya bentuk-bentuk pemerintahan dan pendidikan sangat tergantung pada pandangan kita tentang manusia. Masalah ini adalah masalah yang paling sulit dan luar biasa pentingnya dewasa ini, tetapi banyak orang mencari penyelesaian-penyelesaian yang mudah” (Lois Kattsoff)&lt;br /&gt;Tidak ada satu otoritaspun yang boleh menghalangi realisasi dari kebebasan yang dimiliki seseorang karena manusia secara lahiriah adalah suci esensi Agama (din) dari seluruh rasul adalah sama. Mnusia makhluk yang universal bebas memahami hidupnya dengan jalan yang ia tempuh sendiri, tetapi manusia terbatas oleh etika dan agama dan selama ia tidak merugikan oranglain dalam hal etika dan agama (kesepakatan kolektif) itu dibenarkan dan tidak ada argumen untuk menyanggahnya.&lt;br /&gt;Demokrasi merupakan satu-satunya system pemerintahan atau ketatanegaraan (system yang dipercaya mampu mengoreksi dirinya sendiri). Karena itu orang lebih memilih demokrasi dengan harapan adanya sesuatu perubahan dan perbaikan. selain demokrasi sebagai pilihan tunggal untuk menembus kebuntuan teoritik dan praksis social umat manusia, demokrasi mengedepankan kepentiangan individu diatas kepentingan rakyat, dengan istilah lain Vini, Vidi, Vici (dari rakyat, oleh rakyatdan untuk rakyat) Islam mempunyai dasar dalam musyawarah,&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4048571085775261883-6300558159111303758?l=penantangtuhan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penantangtuhan.blogspot.com/feeds/6300558159111303758/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4048571085775261883&amp;postID=6300558159111303758' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4048571085775261883/posts/default/6300558159111303758'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4048571085775261883/posts/default/6300558159111303758'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penantangtuhan.blogspot.com/2007/10/sekulerisme-agama-publik-dan-demokrasi.html' title='Sekulerisme; Agama Publik dan Demokrasi Dalam Wacana Rekonstruksi Religiusitas'/><author><name>daspuy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02379759474672467858</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_meyFCGexN_I/Sf_HZB9pijI/AAAAAAAAABA/E7vsIZoQj74/S220/BadieullhaqQ(213).jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4048571085775261883.post-3316611881599084047</id><published>2007-10-08T11:00:00.000-07:00</published><updated>2008-12-09T08:13:28.942-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_meyFCGexN_I/RwpxjElJ6eI/AAAAAAAAAAM/sG65qKupfFc/s1600-h/images.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 204px; height: 226px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_meyFCGexN_I/RwpxjElJ6eI/AAAAAAAAAAM/sG65qKupfFc/s320/images.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5119028773798930914" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4048571085775261883-3316611881599084047?l=penantangtuhan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://penantangtuhan.blogspot.com/feeds/3316611881599084047/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4048571085775261883&amp;postID=3316611881599084047' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4048571085775261883/posts/default/3316611881599084047'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4048571085775261883/posts/default/3316611881599084047'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://penantangtuhan.blogspot.com/2007/10/blog-post.html' title=''/><author><name>daspuy</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02379759474672467858</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_meyFCGexN_I/Sf_HZB9pijI/AAAAAAAAABA/E7vsIZoQj74/S220/BadieullhaqQ(213).jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_meyFCGexN_I/RwpxjElJ6eI/AAAAAAAAAAM/sG65qKupfFc/s72-c/images.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
